Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Maret 2012

NEGERI SENDUK TOMBARIRI MINAHASA

|3 komentar
Ivan R.B. Kaunang

Letak Desa
Letak negeri (wanua) Senduk ditinjau dari asal-usul kata/nama berada pada satu lokasi di ketinggian atau Kasendukan (Bahasa Tombulu). Hal ini benar secara geografis, negeri Senduk kedudukannya berada di ketinggian dibanding dengan desa/negeri tetangga yang berbatasan langsung. Adapun batas-batasnya (dahulu orang menyebut batas garis-wilayah kepolisian), sebelah Utara berbatasan dengan desa Ranowangko (Rano=air, Wangko=besar), sebelah Timur dengan desa Lola dan desa Ranotongkor, sebelah Selatan dengan desa Munte dan desa Tangkunei, sebelah Barat dengan dengan desa Po’opoh. Sebagian besar desa yang berbatasan masuk dalam wilayah kecamatan Tombariri (tou=orang, wariri yaitu sejenis tumbuhan-rumput; Orang yang diselamatkan oleh rumput? Ketika badai angin datang, yang selamat adalah orang-orang yang dapat bertahan dengan memegang rumput). Kata Negeri banyak digunakan dalam surat-catatan-catatan resmi masa kolonial untuk menyebut wanua-desa/kampung di pedalaman Minahasa. Sedangkan untuk wanua-desa/kampung yang berada dekat dengan pusat pemerintahan (kota) Manado, tempat kedudukan seorang Residen disebut Kampung, sekarang kita kenal dengan Kelurahan.

Secara jelas lokasi negeri Senduk diantara desa-desa di Kecamatan Tombariri, dapat diketahui dari syair sebuah lagu yang menjadi judul tulisan ini: “Negeri Senduk Yang kekasihku”. Dalam syair lagu ini disebutkan nama-nama desa yang berbatasan langsung dan berhubungan atau bertalian asal-usul keturunan dengan negeri Senduk dan negeri Senduk sendiri sebagai episentrumnya atau pusat. Secara lengkap isi syairnya sebagai berikut:
            Negeri Senduk yang kekasihku, siang dan malam tak ku lupa
            Kiri kanan bergunung-gunung, dipandang dengan hati yang riang
            Pandang ke Timur Gunung Lokon, pandang ke Barat Gunung Soputan
            Di Utara ada satu pulau bergunung, nama itu Manado Tua
            Serta itu Tanawangko, Lemoh Lola dan Ranotongkor
            Tara-tara serta Woloan, negeri Tomohon kota yang ramai
            Sarongsong Pinaras Tangkunei dan Munte, Negeri Senduk yang Kekasihku.

Dapat diceritakan sedikit, bahwa lagu ini dijadikan semacam ‘lagu kebangsaan’ sebagai salah satu lagu dari sekian lagu makatana (berasal dari kata tana yang diberi awalan maka. Kata tana memiliki berbagai makna antara lain bumi, negara, negeri, lahan pertanian, tanah, dan sebagainya, sedangkan awalan (prefiks) maka dapat berarti fihak, pemilik atau yang memiliki dan atau menguasai. Jadi secara etimologis makatana dapat diartikan sebagai yang memiliki dan atau yang menguasai bumi, negeri, lahan, tanah, dan sebagainya bahkan alam semesta beserta semua isinya). Lagu makatana ini yang selalu dinyayikan dalam setiap pertemuan ‘se-kawanua, se matuari’ untuk mempererat persaudaraan, semangat Mapalus organisasi-organisasi sosial kemasyarakatan orang-orang Senduk di rantau seperti Manado, Jakarta dan di Luar negeri. Misalnya, Persatuan Pemuda Remaja Kristen Senduk (PPRKS); Roekoen Kasendukan (Organisasi ini melaksanakan kegiatan ibadah, arisan keluarga dan mapalus lainnya, selain memperhatikan perkembangan pembangunan fisik-mental kampung halamannya). Organisasi ini, masih eksis dan di Tahun Baru 2005 ini mulai lagi dengan kegiatan rutin, yakni kunjungan-kunjungan ibadah keluarga 2 minggu sekali. Lewat Rukun inilah, bahasa ibu – bahasa Induk Tombulu dipertahankan dan dilestarikan, walau disadari di kampung halaman terjadi erosi penggunaan bahasa – hanya orang tua yang berumur  50-an yang tetap menggunakan bahasa sedangkan anak-anak dibawah umur tersebut, orang muda produk jaman sekarang - tulang punggung desa ‘so farek’ dengan bahasa Tombulu. (Dalam sejarah Minahasa, suku bangsa Tombulu adalah suku yang mempunyai pengaruh besar dalam hal penyajian bahasa-bahasa tua Minahasa – bahasa Tombulu - untuk upacara-upacara adat yang dilantunkan dalam sastra-syair dan nyanyian-nyaian pemujaan. Suku Tombulu pada umumnya tersebar di Barat daya Minahasa).

Lingkungan Desa
            Dua buah sungai mengelilingi wilayah desa, di sebelah Barat desa terdapat sungai ‘ngaralewo’ (ngaran=nama, lewo=jelek; tidak baik. Orang tua-tua dahulu menamakan sungai ini ‘Kolintawu’ ada satu hal yang memalukan di sungai ini untuk kaum perempuan yang oleh generasi kemudian menganggap bahwa itu nama jelek, tidak baik, seronok, porno, sehingga dinamakan ‘ngaralewo’. Sungai ini memiliki latar belakang sejarah yang tidak baik atas suatu peristiwa yang terjadi di sungai tersebut sehingga dinamakan demikian), di sebelah Timur terdapat sungai ‘Wewelwel’ kemudian dikenal sekarang Ranoaker (Rano=air, eker/ekel=seho, pohon enau: sungai ini tempat membersihkan mayang pohon enau yang dipotong; sungai yang banyak ditumbuhi pohon seho. Sungai ini memanjang dari arah timur sepanjang desa – dari atas desa ke bawah desa). Kedua sungai ini mengalir di sepanjang desa yang memberikan mata air kehidupan. Sekarang ini, kondisi kedua sungai mulai tergantung pada musim penghujan, jika musim kemarau datang, debet air pun menurun. Hal ini terjadi akibat penebangan hutan, pembukaan lahan pertanian, lokasi pemukiman yang mulai melebar akibat pertambahan jumlah penduduk dan sebab lain yang mengganggu mata air sungai. Di musim kemarau desa Senduk sering kesulitan air. Sungai bagi penduduk desa sangat penting untuk kegiatan mandi, cuci dan mencari ikan (udang).

Bentuk desa memanjang mengikuti jalan raya (utama) dan lorong desa. Jalan raya adalah jalan utama yang menghubungkan dengan desa-desa tetangga dan sekarang termasuk jalan trans Sulawesi. Hingar-bingar bunyi deru suara kendaraan yang lewat setiap hari cukup mengganggu aktivitas kehidupan masyarakat desa – kecelakaan pun sering terjadi.

Rumah-rumah dibangun di kiri-kanan sepanjang jalan utama, termasuk bangunan-bangunan penting desa, seperti Gereja, Kantor Hukum Tua, Balai Desa, Pos Jaga-Kamling, dll. Luas tanah desa ± 10. 000 ha. Sudah terbagi atas luas hutan, kebun dan pemukiman.

Lokasi ‘Angker’
Pada zaman lampau, sebagaimana desa- desa tua lainnya di Minahasa, lingkungan desa Senduk memiliki tempat-tempat yang dianggap angker ‘dahulu tempat tersebut tidak sembarang didatangi’. Adapun tempat-tempat tersebut, seperti lokasi ‘Batu Raragesen’ satu lokasi pemujaan tempo doeloe. Konon batu-batu tersebut, tempat berdiam para dotu seperti dotu Kawulesan. ‘Batu Matuktukan’ tempat berdiam dotu Linkanbene, lokasi lain sungai kecil yang disebut ‘Spotot’, kemudian ‘Ririnteken’ (Ririntek=dipotong-potong halus) ini adalah lokasi perkebunan yang dahulu sebagai tempat pembantaian. Orang-orang yang tidak dikenal oleh masyarakat (dianggap musuh) ditangkap dan di potong-potong halus. Lokasi lain, daerah perkebunan ‘Sinogelan’=cungkel orang. Selain itu ada satu lokasi yang disebut ‘Gunung Wantik’ dalam salah satu nyanyian disebutkan lokasi negeriku kaki Gunung Wantik. Di Gunung Wantik ini, terdapat banyak kuburan waruga. Konon dahulu pertempuran dahsyat pernah terjadi di gunung ini dan banyak yang mati, ada yang mengatakan ‘mungkin’ anak suku Minahasa Bantik pernah singgah di gunung itu dan penduduk setempat kemudian menamakan Gunung Wantik. Di sini ada juga ‘Batu Kenturkure’ batu tempat meminta hujan – lokasi Warangka (tempat jahat) lokasinya di hutan besar. Sekarang ini lokasi Gunung Wantik merupakan daerah berburu, tapi awas konon banyak kejadian aneh di sana? hi iii.

Jika diamati, sebenarnya bukit Kasendukan yang menjadi lokasi pemukiman desa berada di lereng bukit Insarang yang melingkar dari Pinaras sampai Kasendukan. Sungai-sungai yang mengalir di desa Senduk tidak berasal dari desa lain tetapi dari pegunungan lereng bukit Insarang. Air sungai dari mata air murni pegunungan lereng bukit insarang.

Singkatnya, di desa Senduk dahulu ada 4 sudut tempat pemujaan: 1) Batu Raragesan berdiam dotu Kawulesan, 2) Batu Kaliwale berdiam dotu Kawulusan, 3) Batu Tiga Besar tempat dotu Linkanbene dan 4) Batu dotu Lokon. Hampir disetiap tempat yang tinggi, ditempatkan seorang dotu yang menjaga seperti di gunung Wantik ada dotu Wantian.

Tradisi Waruga
Generasi baru di Senduk, tidak mengenal tradisi Waruga termasuk peninggalannya. Tradisi Waruga hanya diketahui dari cerita-cerita orang tua-tua bahwa dahulu, sebelum Senduk mengenal agama Kristen tradisi penguburan ‘nenek moyang’ dilakukan cara waruga. Pada umumnya, kuburan waruga di Senduk sudah tidak berbekas khususnya di lokasi pemukiman/perumahan. Padahal tidak jauh dari desa, tepatnya di sebelah utara terdapat satu lokasi yang bernama ‘Tatahaan’ asal kata ‘tumaha’ artinya bentuk/membentuk. Tatahaan adalah tempat pembuatan, pembentukan waruga-waruga. Tanahnya sesuai dengan adonan spesie jika ingin membuat waruga, yakni domato. Sisa-sisa waruga yang belum sempat selesai banyak ditemukan di tempat ini.


Mata Pencaharian
Pada umumnya masyarakat di sini adalah petani ladang. Makanan pokok dari padi/beras dan jagung/beras (beras milu). Disamping itu mengusahakan tanaman cengkeh, kelapa, vanila, sayur-sayuran, umbi-umbian, pisang dll. Selain bertani, mereka juga mengenal berburu, menangkap ikan di sungai, mengusahakan rotan serta kayu balok/papan untuk rumah. (yang terakhir sudah dilarang untuk menebang sembarang pohon). Memasuki masa kolonial, banyak yang berpendidikan diantaranya ada yang menjadi guru, tentara KNIL dan dalam perkembangannya kemudian ada yang menjadi perawat, PNS, tukang dsb.
Sejak tahun 1970-an banyak pemuda Senduk yang ‘teken tentara, teken polisi’ menjadi anggota TNI terutama Polisi. Ada satu masa di Senduk dikenal sebagai gudangnya Polisi. Hal ini ada latar sejarahnya. Pada masa kolonial Belanda, orang Senduk banyak menjadi anggota Tentara Belanda – KNIL. Salah satu yang terkenal adalah Bapak Karel Tololiu Sembel – seorang Sersan KNIL yang ditempatkan dibagian penerimaan anggota KNIL. Itulah sebabnya banyak pemuda Senduk yang lolos seleksi menjadi anggota KNIL. Sesudah Kemerdekaan Indonesia, Bapak Karel Tololiu Sembel, di Senduk lebih dekat dikenal atau dipanggil dengan sebutan ‘Ajudan Sembel’ sampai sekarang pun orang-orang tua yang lanjut umurnya menyebut demikian. Hebat!

Banyak pemuda yang menjadi Polisi, hal ini berdampak positif dan contoh yang baik bagi generasi sesudahnya yang telah menyelesaikan pendidikan menengahnya. Akan tetapi, bagi para pemuda yang tidak dapat melanjutkan pendidikan, berdampak negatif bagi kehidupan bermasyarakat di desa Senduk, khususnya di era tahun 1980 – 1990-an. Dahulu desa ini dianggap ‘rawan’. Perkelahian antar desa tetangga sering terjadi, pencegatan mobil yang melewati desa – tidak terkecuali mobil pejabat, TNI-POLRI, pemukulan, mabuk-mabukan (minuman cap tikus) dll. Mereka berani melakukan semua ini karena teman-teman mereka banyak yang 'teken tentara dan teken polisi’. Akan tetapi, di lain pihak pemuda-pemudi Senduk ini – ulet dalam bertani, mereka rajin mapalus pertanian dan membekali diri mereka dengan berbagai ketrampilan (tukang misalnya), kemudian ada pula yang sempat ke Manado atau Ibukota Jakarta mengadu nasib. Sekarang ini banyak diantara mereka telah sukses di rantau dan sesekali ada juga yang ingat kampung halamannya untuk membangun. Hal positif lainnya, tua-muda-kecil besar suka dengan budaya tari ‘Maengket dan Musik bambu. Salah satu group kesenian Maengket bernama ‘Esa Tarendem’ (esa=satu; tarendem=permainan) ada juga Group kesenian ‘Manimpayow’ arti sastranya menyebutkan ‘semacam tunas muda’. Orang tua sendiri tidak tinggal diam, ada waktu-waktu tertentu misalnya dalam acara-acara perkawinan membawakan tarian ‘Langse, Polineis, Katrili, dansa-walz, dll., (Ini semua dengan pakaian yang sopan dan gagah, jas misalnya – sekarang ini orang sembarang saja seperti tidak menghormati kebiasaan dan tradisi turun-temurun)  sambil memberikan pelajaran singkat kepada generasi muda untuk dilestarikan. Sekarang ini, desa senduk termasuk salah satu desa yang aman dikunjungi dan sebagaimana desa lainnya setiap orang tidak ingin terusik oleh hal-hal ketidak-adilan. Senduk seperti ‘naga yang sedang tidur’ tidak boleh diganggu dalam arti mereka berani karena benar. Masyarakatnya religius dan pada umumnya beragama Kristen. (I te tei kaman ne … tanyakan artinya pada orang Senduk).

Asal-Usul Penduduk – Pemukiman Awal
Mengenai asal-usul penduduk, erat hubungannya dengan awal pemukiman. Siapakah yang pertamakali datang merintis, tokoh-tonaas yang  mendirikan desa, darimana asalnya, dan kapan hal itu terjadi?

Pada sekitar tahun 1765, satu taranak (keluarga) besar yang berjumlah 16 KK datang dari arah Timur diperkirakan berasal dari Tomohon sebelah Selatan tepatnya daerah Sarongsong sekarang ini. Pimpinan kelompok taranak ini adalah seorang Tonaas yang bernama Mamuaya. Mereka awalnya datang dan bermukim di satu dataran sekitar 3 Km sebelah Tenggara desa Senduk sekarang. Daerah pemukiman awal ini kemudian dinamai Mawale (Tombulu, Ma=bekas, Wale=rumah, perumahan, perkampungan: Bekas Perkampungan). Dari tahun 1765-1769, mereka tinggal dan menetap di lokasi Mawale sampai akhirnya kelompok Mamuaya ini pun pindah. Alasan pindah karena ditimpa berbagai bala seperti sakit-penyakit sampar, gangguan adanya katak, ular yang sampai masuk dalam periuk-belanga.

Pada tahun 1769 masih di pimpin oleh Tonaas Mamuaya, mereka pindah ± 12 Km ke arah Barat di satu areal dataran tinggi yang kemudian disebut dengan nama Kaleneran (Tombulu, Lener=tenang, jernih). Pada saat mereka memohon petunjuk kepada yang maha kuasa (upacara adat Minahasa kuno) sampai selesai acara adat untuk persetujuan lokasi pemukiman, tidak terdengar suara burung Manguni – burung O’ot. Proses ‘Menalinga’ untuk mendengar suara bunyi burung sebagai tanda setuju dan tidak setuju tidak terdengar … sunyi, sepi, tenang bagaikan kesunyian malam. Mereka pun memutuskan untuk menjadikan lokasi itu pemukiman. Mereka hidup dari bercocok tanam (pertanian) dan berburu, menangkap ikan. Selama kurang lebih 30 tahun mereka hidup di Kaleneran, silih berganti para Tonaas melindungi mereka dan mereka pernah mengenal Tonaas Dotu Siow selain Dotu Mamuaya.

Pada tahun 1799 oleh berbagai sebab, antara lain luasnya daerah pemukiman dan terutama perkebunan mengakibatkan debet air bersih berkurang. Air yang mereka dapatkan dari Sungai Kaleneran dan Sungai Wagey mulai berkurang, selain karena kekurangan air datang pula sejumlah bala, sehingga memaksa mereka harus pindah. Kepindahan mereka menjadi dua kelompok taranak besar, yang satu dibawah pimpinan Tonaas/Dotu Siow berangkat ke arah Barat mendekati pesisir pantai atau tepatnya di desa Kumu dan sebagian ke desa Sondaken yang sekarang. Dotu Siow sendiri wafat dan dimakamkan di desa Sondaken. Sebagian kelompok Taranak ke arah Timur dibawah pimpinan Tonaas/Dotu Senge dan menempati lokasi ‘Senduk’ sekarang. Upacara Menanalinga dilakukan di sebuah bukit (Kasendukan) yang sekarang menjadi pusat asal-usul nama desa ‘ini. Atas petunjuk yang Maha Kuasa mereka melaksanakan upacara foso dan karena lokasi upacara berada di ketinggian mereka menyebutnya tempat itu Kasendukan asal nama Negeri Senduk ini yang didirikan pada tahun 1800.

Perjalanan sejarah yang cukup panjang yang telah dilewati telah membawa mereka dalam tali persaudaran yang kuat, sehingga dalam berbagai macam pekerjaan dikerjakan secara gotong-royong, bersama-sama atau disebut Mapalus.

Pemerintahan Tonaas/Dotu Sampai Hukum Tua
Adapun para pemimpin Tonaas/Dotu selama beberapa generasi:
Tonaas/Dotu Mamuaya 1765 – 1799 (Masa pengembaraan)
Tonaas/Dotu Senge 1799 – 1830 (Negeri Senduk berdiri thn. 1800)
Tonaas/dotu Kalumata, 1830 – 1859 (penataan lingkungan perumahan)
Tonaas Walewangko, 1860 – 1889 (penataan lingkungan dan batas desa)
Tonaas / Hukum Tua Laurens Wehantouw I, 1890 – 1900. (penataan administrasi keamanan desa)
            Pada masa Hukum Tua pertama, Bapak Laurens Wehantouw I, dengan adanya perkembangan penduduk, pemerintahan desa dibagi dua jaga dengan dibantu para Meweteng dalam bahasa Tombulu artinya Pembahagi). Meweteng bertugas membagi beban-beban tugas kerja dalam kehidupan masyarakat sedangkan Kepala Jaga bertugas dan bertanggungjawab atas seluruh aspek kehidupan masyarakat jaga yang berada dibawahnya.

Masa Pemerintahan Hukum Tua

1.      Laurens Wehantouw, 1890 – 1900
2.      Zadrak Kalalo, 1900 – 1907
3.      Arnold Walangitan, 1907 – 1910
4.      Adolof Wehantouw, 1910 – 1912
5.      Jacob Kukus, 1912 – 1924
6.      Frits Kalalo, 1924 – 1933
7.      Agustinus T. Sembel, 1933 – 1942
8.      Karel Tololiu Sembel, 1942 – 1945 (disebut Sonco – masa Jepang)
9.      Agustinus Sembel, 1945 – 1950
10.  Bugis paulus Lempoy, 1950 – 1959 (Masa Permesta, thn 1957)
11.  Alfrits Anda Supit, 1960 – 1961 (Di daerah pengungsian - perkebunan)
12.  H.A. Wehantouw, 1961 – 1962
13.  Luis F. Kalalo, 1962
14.  H.A. Wehantouw, 1962 – 1965; 1965 – 1970 (Hukum Tua Definitif)
15.  Alfrits Anda Supit, 1970 – 1975
16.  H.A. Wehantouw, 1975 – 1979
17.  Pejabat, Welly Pangkey, 1979/1980 (Pemberlakuan UU No. 5/1979)
18.  H.A. Wehantouw, 1980 – 1983
19.  Pejabat, M.C. Timbuleng, Maret 1983 – Oktober 1983 (Pegawai Ktr Camat)
20.  Jantje Ratag, Oktober 1983 – Januari 1984 (Alasan berhenti, karena Sakit)
21.  Pejabat, Frits K. Turang, Januari – Maret 1984 (Waktu itu menjabat Sekdes juga)
22.  Yohanes Sumendap, Maret 1984 – April 1985 (meninggal dlm tugas)
23.  Laurens Wehantouw II, 1985 – 1986 (meninggal dlm tugas)
24.  Pejabat, Frits K. Turang, 1986 – Desember 1987
25.  Jacob Supit, 1987 – 1996 (defenitif)
26.  Pejabat, Yan Poli, 1996 – 1997
27.  Jacob Tulandi, 1997 – 2002
28.  Alex Rengkung, 2002 – sekarang


Injil dan Pendidikan Kristen

Pendidikan Kristen mulai di kenal bersamaan dengan penyebaran Injil di Minahasa. Pada tahun 1860, penduduk desa Senduk diperkenalkan dengan sekolah Zending yang dikelola oleh Gereja, disebut juga sekolah jemaat. Sekolah ini diusahakan oleh Nederland Zendeling Genootschaap (NZG). Pelajaran utama dari sekolah ini adalah membaca, berhitung dan menulis. Untuk pelajaran membaca yang utama adalah membaca Alkitab. Ketika GMIM berdiri sebagai satu gereja yang otonom, sekolah-sekolah Zending berubah nama menjadi sekolah GMIM. Hal yang sama terjadi di desa Senduk. Tahun 1934 Sekolah GMIM Senduk hadir dengan pelajaran-pelajaran yang mulai bertambah seperti ilmu pengetahuan umum. Tahun 1964, GMIM mendirikan Sekolah Lanjutan Pertama (SMP-GMIM) diikuti Taman Kanak-Kanak tahun 1967. Denominasi lain pun mulai mendirikan sekolah, seperti Roma Katolik yang pada tahun 1968 mendirikan Sekolah Dasar. Di kemudian hari masuk pula aliran Kristen lainnya, seperti Pantekosta, Advent dan lainnya.

Hidup rukun dan damai antar denominasi dalam berbagai sendi kehidupan masyarakat terlihat dalam berbagai acara kemasyarakatan, seperti pengucapan syukur gereja, desa, pesta perkawinan, dan syukuran-syukuran lainnya. Dalam acara-acara pesta, dikenal masyarakat mapalus makanan atau disebut mejaan. Makanan diatur sesuai dengan meja keluarga mapalus masing-masing dan makan bersama di atas daun pisang dengan tangan tanpa sendok, ‘kow wot kow’ – ‘ngana deng ngana’. Asyik. Cara makan adat masyarakat senduk mulai hilang, karena santap sehindangan … ternyata sekarang ini makan di piring masing-masing. Minuman yang disuguhi selain yang biasa ada juga selingan ‘Saguer’. Alunan musik bambu nan indah, diselingi tari-tarian rakyat Maengket, Polyneis, Lanse, Katrili dan tarian modern anak muda menambah semarak pesta-pesta syukur yang diadakan dan disatukan di Balai Desa Senduk. Tradisi ini berkembang sampai sekarang.
Masuknya budaya catering (makanan dipesan) membuat makanan khas tradisional, seperti tinoransak, daging RW, saut, santan paniki, nasi bungkus, ikan rica-rica, makanan bulu (diisi di bambu) nasi jaha, apang, cucur, onde-onde, kolombeng polote-pica dan sebagainya mulai tidak diketahui cara masaknya oleh generasi muda. Makanan instant mulai diminati ‘mie instant’, makanan pesan langsung tersaji seperti Kentucky, Pizza Hutz, Hamburger, gado-gado juga … dsb.

Sayang Kalau Tidak di Ceritakan
-          Tidak seperti desa-desa lainnya di Minahasa, desa Senduk pada masa Pergolakan Permesta 1957 – 1959/60 (Perang Saudara) tidak menjadi satu Markas Komando. Pemerintahan berada di pengungsian – daerah perkebunan. Rumah-rumah penduduk yang dibangun selama kurang lebih 40 tahun di bakar habis semua – baik oleh pemilik sendiri maupun oleh ‘tentara’ Permesta. Hal ini dimaksud agar pasukan lawan tidak menempati lokasi kampung mereka. Hanya satu yang tersisa dan tidak dibakar, yaitu Gereja.
-          Ada seorang Tonaas yang bernama Tamboto, karena kejahatannya maka tidak banyak diceritakan dan tidak banyak orang tahu kisah ini. Konon dahulu, kalau ada anak-anak menangis orang tuanya sering menakut-nakuti dengan mengatakan ‘manangis ngana nanti opo Tamboto ambe’ akhirnya hal ini benar-benar terjadi. Masyarakat bersatu untuk mengejarnya, ternyata opo ini bukan sembarang opo, dalam keadaan terjepit … dia mampu menghilang. Masyarakat menyebutnya “Mapupuisan’ kurang lebih artinya siapa saja bertemu dengannya, kalau orang itu tidak dikenal maka dihajar, dipotong dan mati. Dalam pengejaran, opo Tamboto harus melewati sungai … seekor burung ‘Titikak atau disebut juga ‘Srigunting’ berada di ujung pohon bambu (bulu Jawa, tahaki) dengan kesaktiannya bambu yang diujungnya ada burung Srigunting bisa roboh dan menjadi jembatannya untuk menyeberang.
-          Penggunaan bahasa Tombulu pada generasi muda ‘sudah hilang’ mereka mengerti yang dimaksudkan tapi untuk ditulis dan bicara mereka tidak tahu lagi. Pakatuan Pakalawiren.-

Sabtu, 04 Februari 2012

Gedung Minahasaraad

|0 komentar
Oleh Bode Grey Talumewo

 Kasiang, ini museum ato penjara, so?” komentar seorang teman saya waktu kami lewat di sampingnya.

Iyo kang?” sahut saya. Memang benar keluhan teman saya. Jeruji pagar besi menjulang tinggi di atas kepala kami. Khas sebuah rumah orang kota yang individualis, ‘anti-sosial’. Bangunan ini diambil alih Pemprov Sulawesi Utara dari Lantamal VIII TNI-AL dengan cara menukar guling dengan sejumlah tanah dan aset Pemprov lainnya.

Gedung ex-Minahasaraad ini terletak di pusat kota Manado, samping tenggara landmark Zero Point Manado, diapit Jl. Sam Ratulangi di sebelah barat dan Jl. Sudirman di sebelah utara, serta di antara Gedung Juang ’45 di timur dan kantor pusat Bank Sulut di seberang barat.

Minahasaraad, atau yang sering diucapkan penduduk “minasarat” adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Minahasa (Minahasaraad, bahasa Belanda dari Dewan Minahasa), dibentuk tahun 1919 oleh Residen Manado F.H.W.J.R. Logeman. Ini tercantum dalam Lembaran Negara Hindia-Belanda 1919 No. 64. Dengan demikian Minahasa menjadi daerah otonom Hindia-Belanda dengan 16 kis-distrik. Memang tahun 1919 Minahasaraad dan Gemeenteraad (Dewan Kota) Manado dibentuk bersamaan berdasarkan locale raden-ordonnantie.

Yapi Tambayong menyebut yang diputuskan dalam sidang Minahasaraad antara lain membuat jalan dan jembatan, membuka lahan kolonisasi, yaitu transmigrasi lokal Minahasa, sehingga MinahasaRaad diplesetkan sebagai dewan ‘tukang bikin jalan’ karena tugasnya berkesan hanya tertumpu pada pembuatan jalan.

Saat dibentuk Ketua Dewan dipegang Residen Manado, namun tahun 1926 diambil alih Asisten-Residen Manado. Anggota Minahasaraad mulanya berjumlah 23 orang (dengan 4 orang Belanda, 18 Minahasa, 1 Cina), kemudian menjadi 41 orang dan tahun 1923 turun jadi 18 orang. Tahun 1934 tercatat ada 29 orang (18 Minahasa), dipilih langsung oleh rakyat dalam 16 distrik pemilihan, dimana 6 orang adalah Kepala-kepala Distrik di Minahasa. Dalam Regerings Almanak 1922 mencantum anggota Dewan: Th.E. Gerungan, A. Inkiriwang, A.J.H.W. Kawilarang, B. Lalamentik, J.E. Lucas, R.E. Lucas, A. Maengkom, J.H. Mononoetoe, J.U. Mangowal, P. Mamesah, P.A. Mandagie, P.L. Momuat, A.F. Najoan, B. Parengkuan, G.J. Palar, H. Pande-Iroot, E. Pelenkahu, G. van Renesse van Duivenbode, E. Rotinsulu, P.F. Ruata, H. Rorimpunu, P.A. Ratulangi, Sie Lae Hoeat, A.H.D. Supit, L. Saerang, R. Sondakh, J. Stormer, J.N. Tambajong, W.F. Tumbuan, Z. Talumepa, A.L. Waworuntu, E.W.J. Waworuntu, J.A.K. Wenas, W.A. Wakkary, A.A. Warokka. Anggota Minahasaraad terakhir tahun 1942 berjumlah 29 orang dengan komposisi 4 Belanda – 24 Minahasa – 1 Cina.

Riwayat gedung Minahasaraad sendiri baru dimulai tahun 1930. Setelah 10 tahun beraktifitas, dewan memutuskan segera menempati gedung tersendiri. Diputuskan akan dibangun di lahan taman penjara Manado, yakni di depan timur kantor Keresidenan Manado (sekarang kantor pusat Bank Sulut), yang dipisahkan oleh Wilhelminalaan, sekarang Jalan Sam Ratulangi.

Mantan Rektor Unsrat Prof. W.J. Waworuntu, menyebut biaya pembangunan gedung Minahasaraad ini diusahakan oleh Dr. G.S.S.J. RatuLangi (1890-1949). Sebelumnya ia menjadi Sekretaris Minahasa Raad tahun 1923-1928. Waktu jadi anggota Volksraad (antara 1928-1937), ia melobi Sultan Kutai di Kalimantan agar meminjamkan sejumlah uang untuk pembangunan gedung ini. Sultan langsung menyetujui pinjaman sebesar f 11.000 gulden kepada Minahasaraad dengan syarat pengembalian harus dicicil per tahun 1000 gulden (cicilan ini baru dilunasi 11 tahun kemudian tahun 1930 hingga 1941). Pembangunan gedung dilaksanakan tahun 1930 dan selesai pada tahun 1933.

Ironisnya, gedung ini tidak maksimal digunakan Dewan. Pemanfaatan gedung ini secara utuh baru terjadi tahun 1945-1946, artinya setelah Perang Dunia II berakhir. Setelah ‘verlopeh minasarat’ (Voorlopige Minahasaraad, yaitu Dewan Perwakilan Rakyat Minahasa Sementara) semasa NICA, pemanfaatannya dilanjutkan oleh Dewan Minahasa pasca pengakuan kedaulatan RI tahun 1949. Pada masa Pergolakan Permesta tahun 1958-1961 penggunaan gedung kurang maksimal karena beberapa anggota Dewan ikut terlibat Permesta.

Tahun 1962 Pemerintah Daerah Minahasa pindah dari Manado ke Tondano. Gedung Minahasaraad pun dijual kepada Penguasa Perang Daerah (Peperda), dalam hal ini TNI-AL seharga sembilan juta rupiah. Selama lebih dari 20 tahun gedung ini dijadikan Markas Komando TNI-AL Daerah VI hingga menjadi Mako Lanal ini pindah ke Kairagi.

Sesudah itu gedung disewakan oleh pihak TNI-AL sebagai tempat kursus, rumah makan, usaha kecil dan lain-lain. Kondisi bangunan bersejarah ini sempat rusah parah karena dindingnya dibobol sesuka hati para penyewa. Bahkan kondisi sanitasi yang parah, ditambah lokasinya yang berada di pusat kota menyebabkan kompleks gedung seakan tempat pemukiman kumuh di tengah kota Manado. Kondisi ini membuat masyarakat dan sejumlah LSM mendesak pemerintah mengambil alih gedung ini.

Pemerintah Provinsi Sulut pun bersedia mengambil alih dan melakukan tukar guling dengan aset Pemprov yang seharga dengan nilai jual gedung ini, yaitu sekitar 10 milyar rupiah. Apalagi menjelang pelaksanaan WOC, perenovasian gedung ex Minahasaraad satu paket dengan pembuatan Zero Point yang dilakukan Pemkot Manado. Memang pada 11-15 Mei 2009 pemerintah Indonesia menjadi tuan rumah pelaksanaan Konferensi Kelautan Sedunia atau World Ocean Conference dan Coral Triangle Initiative Summit. Kedua kegiatan internasional ini dilaksanakan di Manado, dan didukung PBB, UNEP, UN-Habitat, UNDP, dan UNESCO.

Bulan November 2007 diadakan nego tukar guling Pemprov dengan TNI-AL senilai total 8.082.700.000,-. Gedung ini ditukar dengan tanah Pemprov di Kawiley Minut seluas 10 ha senilai Rp 2.750 juta, dan pagar pengaman tanah tersebut Rp 150 juta, 11 unit kendaraan operasional (merek Toyota) senilai Rp 2.020 juta, tanah di Bumi Beringin Rp 1.082.700 ribu dan gedung mess perwira di atasnya senilai Rp 500 juta, biaya pemeliharaan alat angkut darat bermotor Rp 60 juta. Harga jual ini telah disesuaikan dengan Nilai Jual Objek Pajak tahun 2006.

Awal tahun 2008 gedung ex-Minahasaraad dikosongkan dari para penyewa untuk direnovasi. Namun pemagaran gedung dengan seng sempat menjadikan lokasi ini sebagai tempat mesum, tempat belajar hubungan seks para anak muda sehingga Poltabes Manado pada Kamis, 8 Mei 2008 menertibkan dan menciduk puluhan anak punk di dalam gedung yang sedang asyik pesta miras.

Kini kondisi gedung sudah tertata rapi dengan harapan gedung ini segera menjadi sebuah museum sekaligus ikon sejarah perjalanan demokrasi bangsa Minahasa pada khususnya dan daerah Sulawesi Utara pada umumnya.

Kamis, 26 Januari 2012

“Kampung Cina” di Manado

|0 komentar
Foto koleksi: Bodewyn Talumewo

Identitas yang hampir punah

Kampung Cina adalah satu nama perkampungan di Kota Manado yang mempunyai ciri khusus. Masyarakatnya merupakan suatu masyarakat yang mobil (aktif) dan oleh pemerintah kolonial di masa lalu mengumpulkan mereka pada suatu tempat tertentu yang kemudian terbentuk masyarakat yang berkarakter tersendiri.

Oleh: Ivan RB Kaunang

Kampung Cina mempunyai peranan dalam perkemba-ngan dan pertumbuhan Kota Manado, baik dalam pem-bentukan karakter kota Ma-nado (rumah dan bangunan tua berciri khusus, seperti kelenteng dan vihara serta tradisi) dan terutama berpe-ran di sektor ekonomi. Kam-pung Cina menjadi tempat lahirnya atau embrio dari be-berapa organisasi olahraga terutama olahraga beladiri, yang telah banyak mengha-silkan para pendekar dan ”suhu” nomor wahid dalam dunia silat dan per-kungfu-an di Kota Manado khusus-nya, Indonesia umumnya. Tidak sedikit para pendekar dari belahan dunia Indonesia yang belajar di Kampung Cina-Manado ini.

Karakteristik Kampung Cina
Kampung Cina disebut de-mikian oleh orang Manado karena umumnya didiami oleh orang-orang keturunan Tionghoa. Lahirnya Kam-pung Cina tidak bisa dilepas-kan dari peran yang dimain-kan pemerintah kolonial ke-tika mendirikan benteng di seputar pelabuhan Manado sekarang. Untuk mendirikan benteng, pemerintah kolo-nial memerlukan para pe-kerja tukang yang didatang-kan dari berbagai penjuru nusantara, di antaranya orang-orang Cina.

Para tukang ini kemudian membentuk satu perkampu-ngan bergabung bersama de-ngan para pedagang Cina di sebelah Timur dari lokasi benteng yang dikemudian hari disebut Kampung Cina. Endogami atau perkawinan di antara mereka, melahir-kan anak cucu dan menjadi-kan Kampung Cina semakin luas dan oleh pemerintah kolonial “orang Cina” dimasa itu diberi peran sebagai pe-dagang perantara antara penduduk pribumi (Minahasa) dan pemerintah kolonial.

Selanjutnya, eksistensi Kampung Cina semakin jelas, ketika penataan pemu-kiman dilakukan oleh peme-rintah kolonial berdasarkan asal-usul, seperti adanya Kampung Belanda, Kam-pung Arab dan Kampung Ternate. Pada umumnya, orang Cina hidup sebagai petani di daerah asal, akan tetapi di Indonesia sebalik-nya hampir sepanjang seja-rah bangsa Indonesia mere-ka hidup terkonsentrasi de-ngan kokoh di kota-kota besar maupun kecil dan menguasai perekonomian tidak terkecuali di Kota Manado.

Modal utama yang dimiliki adalah tekad dan kemauan yang keras untuk mempertaruhkan nasib dengan harapan mendapatkan masa depan yang lebih baik.

Memasuki Kampung Cina, sebagaimana ditulis Graafland (di abad 19) … akhirnya sampailah kami di perkampungan Cina … orang Cina mendirikan dua buah pintu gerbang yang bagus. Gerbang terbesar bersusun tiga, dengan atap yang menjorok keluar membentuk spiral yang diberi berbagai kain dan kertas seperti yang lazim dipakai orang Cina … terdapat berbagai lukisan berbagai mahluk mengerikan dan boneka dilukiskan dihiasi lampu-lampu.

Identitas yang Hampir Punah
Identitas menunjuk pada jati diri – masyarakat Kampung Cina itu sendiri dan Manado sebagai satu kota peninggalan kolonial. Kampung Cina adalah bagian dari kota Manado dan mungkin pada generasi selanjutnya hanya tinggal nama. Mengapa? Tidak serius pemerintah kota menata pecinan sebagai satu lokasi yang berkarakteristik khusus. Padahal masyarakatnya mampu untuk bekerjasama membangun sekitar lokasi. Seharusnya, lokasi pecinan menjadi lokasi wisata utama atau alternatif, tergantung bagaimana renstra Manado dalam pengembangan pariwisata. Pemerintah melalui Dinas Pariwisatanya harus mampu menciptakan image/ikon wisata yang dapat membuat lama tinggal wisatawan. 

Misalnya, kalau wisatawan ke daerah ini, kemudian mengunjungi Bunaken tanpa mengunjungi pecinan, berarti belumlah lengkap kunjungan wisatanya. Kelengkapan aksesoris wisata perlu ditambah seperti nama tokoh dan nama jalan kawasan pecinan menggunakan kaligrafi Cina dan dibawahnya diberi arti bahasa Indonesia. Depan tokoh dan rumah diberi aksesoris kecinaan untuk memberi kesan berbeda dengan pemukiman lainnya. Kenyamanan lainnya perlu difasilitasi, seperti tidak diperkenankannya mobil angkutan umum melintasi kawasan percontohan wisata ini, perparkiran di luar kawasan, sistem keamanan yang baik, kebersihan, dan tersedianya bermacam-macam kebutuhan Cina tempo doeloe, misalnya lokasi atraksi barongsai – kung fu (hari-hari khusus), tradisi upacara toapekong (bulan Februari, kalender wisata yang tetap, serta tradisi lainnya, di samping tersedianya sejumlah restoran, kue, mie lalo-lao, dan bakpao, toko obat, shinse pokoknya seperti layaknya memasuki dunia fantasi. Bagaimana diciptakan suasana yang memiliki kemiripan suasana Tiongkok, Hongkong atau paling tidak kekhasan yang tidak ada duanya, disamping kelokalan Tionghoa-Manado, kelokalan Tionghoa-Minahasa perlu dipertahankan. Pendeknya, bagaimana menciptakan kesan wisatawan untuk kembali lagi ke pecinan di Manado.
Kawasan pecinan dapat diciptakan juga semacam diorama, museum kecil yang dapat menggambarkan sejarah perjalanan orang-orang Tionghoa pertamakali tiba di Manado, termasuk lokasi foto tempo doeloe, dan berbagai kerajinan ekonomi kreatif “tanda” kecinaan (oleh-oleh, souvenir).

Identitas ini masih tersisa dan hamper punah serta belum dikelola dan dimanfaatkan sedemikian rupa untuk memperkaya khazanah kota wisata Manado. Identitas lain yang tersisa adalah olahraga beladiri Wu Shu (Kun-Fu). Di era tahun 1970 – 1990-an, olahraga yang satu ini tumbuh subur bersaing sehat dengan olahraga sejenis lainnya seperti tinju, karate, tae kwondo.

Adalah beberapa perguruan yang lahir dan besar dari kawasan pecinan ini di antaranya perguruan Lo Pa Kong, Naga Kuning, Naga Hijau, Sakura Yudo Kwan, PORBISI Garuda Putih dan sebagainya. Ada yang masih bertahan dengan tetap eksis walau latihannya tertutup dengan dunia luar, dan ada pula secara terbuka seperti Perguruan Garuda Putih (Guru Besarnya, alm. Ku-Seng). Seni beladiri yang satu inipun hampir punah. Sebenarnya, olehraga seni beladiri yang satu ini adalah khas Manado, karena lahir dan tumbuh dengan penyesuaian-penyesuaian, olah kreatif dan tidak sama persis bahkan jauh dari perkiraan Master-master Kun-Fu Tiongkok yang berkunjung ke Manado, bahwa olahraga yang satu ini masih tumbuh (langka) dan (heran) masih ada di Manado.

Majunya ilmu pengetahuan, teknologi dan seni akibat globalisasi memberikan banyak tawaran kepada generasi muda, khususnya generasi muda di kawasan pecinan yang hamper tidak lagi mau melestarikan warisan leluhur yang satu ini, tetapi sibuk dengan pelatihan manajemen, kursus komputer, bahasa Inggris dan usaha bisnis lainnya. Kalau dulu melalui sponsor Dinas Pariwisata, kota Manado pernah memiliki pakaian khas kota Manado, ada juga makanan khas Manado, dan berbagai kekhasan lainnya tidakkah juga kota Manado memiliki kekhasan olahraga beladirinya sendiri? Kita saja belum mengakuinya atau mungkin tidak peduli. Beberapa jurus seperti Tangtui, Loi Lo, Bu Tong dan permainan senjata serta kuncian atas, tengah, dan bawah masih dikuasai penulis! Haa.

Seni Beladiri Garuda Putih
Cukup dikenal salah satu perguruan yang bernama Persaudaraan Olahraga Beladiri Sulut Indonesia atau Porbisi “Garuda Putih”. Perguruan ini lahir pada tanggal 1 Januari 1967. Pada awalnya beladiri ini masih diajarkan dalam lingkungan keluarga dekat, kemudian berkembang khusus pada mereka yang warga keturunan Cina. Latihannya pun di ruangan tertutup dan tidak sembarang orang diterima untuk menjadi murid, karena latihannya yang cukup keras dan disiplin.

Di Tahun 1970-an, untuk pertamakalinya mulai diterima murid yang bukan dari keturunan Cina perguruan ini pun semakin maju dan mampu menguasai dunia persilatan di Kota Manado dan sekitarnya. Membicarakan perguruan ini, tidak terlepas dari nama Guru Besarnya Ku Seng yang oleh para muridnya dapat disejajarkan dengan para pendekar Film, seperti Fu Shen, Jacky Chan dan Jet Lee. Para murid, biasa memanggil dengan sapaan “Ko” dan atau “Suhu” yang dengan kerja kerasnya dan motivasi, salah seorang murid pun (Ko Sunche) mengembangkannya dengan mendirikan Seni Barongsai (Nisaido) Manado (awal tahun 2001) yang turut memperkaya khazanah identitas yang tersisa dan hampir punah. Sekarang ini, group Barongsai cukup banyak, tetapi akan aktif dan menunjukkan diri pada acara-acara menjelang dan sesudah Imlek serta hari-hari khusus keagamaan Tionghoa, Tridharma, Konghucu. Tidak hanya itu, sesekali, Barongsai tampil sebagai tanda multikulturalismenya daerah ini. Identitas lain bangunan berarsitektur Cina dan beberapa buah Klenteng, seperti yang terkenal Klenteng Ban Hin Kiong, dan wow masih banyak lagi identitas yang tersisa. Gong Xi Fa Chai, Selamat Tahun Baru Imlek, 1 Chia Gwee 2563.
                                                

Rabu, 21 Desember 2011

Kopra, Pabrik Sabun hingga Permesta

|0 komentar
Cerita tentang Kelapa di Minahasa


Oleh: Denni Pinontoan

Pada tahun 1920-an, Tanah Minahasa, sudah menjadi daerah kelapa. Di era ini, hampir setiap rumah tangga memiliki kurang lebih 50 pohon kelapa. Tonsea merupakan daerah yang paling subur untuk ditanami kelapa. Kelapa juga banyak ditanam di Manado, Amurang, Tondano, Ratahan dan Kawangkoan. Fenomena itu terjadi kurang lebih setengah abad ketika kelapa mulai dibudiyakan secara massal pada tahun 1870-an.

Namun, bukan berarti budidaya kelapa nanti pertama-tama terjadi tahun 1870-an itu. Tahun 1850-an, Nicolaus Graafland seorang penginjil yang bekerja pada NZG sudah melihat pohon-pohon kelapa yang ditanam sepanjang pantai Minahasa. Tahun 1885 Sidney J. Hickson, seorang naturalis berkebangsaan Inggris melakukan perjalanan ke Minahasa, Sangihe dan Talaud. Di Minahasa dia menyaksikan pohon kelapa yang sudah banyak ditanam.  

Catatan perjalanan Hickson mulai tahun 1885 itu diterbikan dalam bukunya, A Naturalist In North Celebes. Buku ini diterbitkan di London tahun 1889. Hickson mencatat, di tahun kedatangannya, salah satu komoditi ekspor Minahasa adalah kopra. Lainnya adalah kopi, kakao, pala, vanili, dan beberapa rempah-rempah lainnya. Tanaman kelapa, menurut Hickson bagi masyarakat Minahasa pada masa itu adalah tanaman yang punya nilai tinggi. Daun kelapa yang muda, biasanya digunakan untuk keperluan dekorasi pada saat ada acara pesta.

Sebuah buku berjudul Celebes, yang terbit di London pada tahun 1919 melaporkan, di bagian Utara Pulau Sulawesi, kelapa sudah banyak ditanam. Waktu itu, kopra dari Minahasa atau wilayah lain di pulau Celebes diekspor ke New York dan San Fransisco, Amerika. Di sana, kopra produksi antara lain menjadi margarine dan sabun.

Sebelumnya pada tahun 1917, gudang-gudang di Manado dijejali dengan kopra. Harga kopra jatuh. Penyebabnya adalah kurangnya pengangkutan barang ke luar. Selain di pelabuhan Manado, kopra dari Minahasa juga diekspor dari pelabuhan Amurang dan Kema.

Pada tahun 1920, Hindia Belanda mensuplai 29 persen kebutuhan kopra dunia. Sekitar 1/3 di antaranya berasal dari keresiden Manado. Effendy Wahyono, yang melakukan penelitian sejarah kelapa di Minahasa untuk tesisnya di Universitas Indonesia, dengan judul, ”Pembudidayaan dan Perdagangan Kopra di Minahasa (1870-1942)” menuliskan, alasan orang Minahasa tertarik memproduksi kopra adalah, pertama, adanya permintaan yang tinggi pasar kopra dunia. Kedua, pengelolaahnya relatif praktis. Ketiga, tidak memerlukan tenaga kerja yang banyak.

Berbeda dengan budidaya kopi yang dilakukan dalam sistem tanam paksa, tanaman kelapa ditanam secara sukarela oleh orang-orang Minahasa. Kalau Graafland dan Hickson sudah menyaksikan pohon kelapa yang banyak di Minahasa di pertengahan abad 19, itu berarti budidaya secara massal pohon kelapa sudah terjadi di masa masih berlakunya sistem tanam paksa kopi. Ini yang menarik. Apakah penanaman pohon kelapa yang secara sukarela itu adalah bentuk protes terhadap sistem tanam paksa kopi yang nanti berakhir tahun 1899 itu? Entahlah. Butuh studi khusus tentang ini.

David Hanley mengatakan, kewajiban menanam kopi yang dihapus pada tahun 1899 membuat produksi utama Minahasa beralih ke produksi kopra. ”Tahun 1926 telah menguasai 90 persen dari nilai eksport,” tulisnya.

Menurut Hanley, kelapa sempat membawa kemakmuran bagi rakyat Minahasa di tiga dekade pertama abad 20. Harga kopra di pasaran dunia waktu itu cukup tinggi. Masyarakat Tonsea terutama yang paling merasakan berkat harga kopra dunia tersebut.

Puncak kenaikan harga kopra terjadi pada dasawarsa 1920-an. ”Pada masa itu petani kopra Minahasa banyak menghabiskan uangnya untuk berfoya-foya seperti membeli kendaraan bermotor (mobil),” tulis Wahyono.

Karena harga kopra lagi bagus-bagusnya dan budidaya kelapa terus meningkat di wilayah keresiden Manado, maka banyak perusahaan perdagangan asing yang membuka cabang-cabanya di wilayah ini. Di Minahasa, sejak tahun 1920-an ada sekitar 10 sampai 12 cabang perusahaan asing. Sebagian besar adalah perusahaan milik pengusaha Belanda. Amerika Serikat, juga tak ketinggalan. Pada tahun 1927, sebuah perusahaan dari Amerika Serikat mulai mengekspor kopra dari Manado ke Pantai Barat Amerika, terutama Los Angeles. Pada tahun 1930-an, sebuah perusahaan Jepang juga beroperasi di Manado. Di masa itu, Manado menjadi salah satu titik temu perdagangan kopra global. Para pedagang biasanya lebih tertarik mengekspor kopra ke Amerika lantaran Amerika berani membeli harga yang tinggi.

Di masa harga kopra meninggi, petani-petani kelapa Minahasa banyak yang memperoleh pinjaman uang dari pedagang perantara dengan jaminan penyerahan kopra setelah masa panen. Banyak pula yang menyewakan kebunnya untuk masa waktu sampai lima tahun. ”Ketika harga kopra turun, petani tidak lagi mampu membayar hutang-hutang beserta bunganya,” tulis Wahyono.

Kebiasaan buruk ini terjadi terus menerus. Akibatnya, banyak tanah yang diambil alih oleh para kreditor untuk pembayaran hutang-hutang. Ini terutama terjadi di wilayah Tonsea, di mana penduduknya dikenal konsumtif. Tidak ada data pasti mengenai jumlah total hutang petani kelapa Minahasa di masa itu. Namun, ada sumber yang memperkirakan, hutang petani kelapa kepada para kreditor berkisar 2 sampai 5 juta gulden.

Depresi besar yang terjadi di Amerika mulai tahun 1929, yang kemudian berlanjut beberapa waktu lamanya sangat berpengaruh hingga di Minahasa. Pasar kopra dunia menjadi lesuh. Masyarakat Minahasa yang menikmati kemakmuran kejayaan harga kopra sebelumnya, tiba-tiba dikejutkan dengan anjloknya komoditi itu. Banyak petani kelapa yang tidak bisa membayar hutangnya kepada para kreditor.

Di masa krisis awal krisis yaitu tahun 1929, harga kopra di Manado turun antara 15 sampai 25 sen per Kg. Di tahun 1938 anjlok, menjadi 13 sen per Kg. Namun, menurut, Hanley, saat itu, penduduk Minahasa masih mampu mengatasi depresi dengan cara mengurangi jumlah pekerja dari Sanger yang digaji untuk memanen kelapa. Selain itu, rakyat Minahasa mulai kembali mengkonsumsi lebih banyak bahan makanan lokal daripada beras impor. Cara-cara ini mampu mengatasi resiko kekurangan makanan. Pemerintah di masa itu juga membuat program yang  membebaskan para petani kopra dari hutang mereka yang semakin menumpuk.

Tapi, cara ini tidak terlalu berhasil. Terutama di Tonsea, banyak petani kelapa yang harus merelakan tanahnya disita oleh para kreditor akibat hutang yang tak mampu dilunasi. Di harian Fikiran yang terbit di Minahasa sering memuat iklan lelang tanah-tanah yang dibeslah dari debitur oleh kreditur. Pada edisi 30 Juli 1932, misalnya hari Fikiran memuat iklan yang berbunyi begini:
”Lelang:1.      Satu kebun kelapa di Tonsea luas 10 bau denan 750 pohon kelapa berbuah
2.      Satu kuintal dengan rumah
3.      Satu kebun di Teteaga luas 60 tektek dengan 60 pohon kelapa berbuah
4.      Satu kebun di Kajawu, Kokolah luas 8 tektek dengan 70 pohon kelapa berbuah
5.      Satu kebun di Likupang luas 6 tektek dengan 250 pohon kelapa (ada yang berbuah dan ada yang belum)
6.      Satu kebun di Likupang luas 3 tektek dengan 50 pohon berbuah
7.      Satu kebun di Kokoleh  Kaki luas 6 tektek dengan 300 pohon kelapa berbuah
8.      Satu kebun di Minewanua, luas 3 tektek dengan 70 pohon kelapa berbuah
9.      Satu di Minawanua, Kokoleh luas 8 tektek dengan 80 pohon kelapa berbuah
10.  Satu kebun di Kokoleh Kaki luas 6 tektek dengan 70 pohon kelapa berbuah
11.  Satu kebun di Kenari, Baru luas ¼ tektek dengan 10 pohon kelapa berbuah
12.  Satu kebun di Tomi-tomi, Baru, luas ½ tektek dengan 20 pohon kelapa berbuah
Kuintal dan kebun-kebun itu dijual dengan tanaman di dalamnya dan sudah dibeslah menurut kekuatan surat hutang (obligasi) dari Frederik Anah yang tinggal di Batu Tonsea. Eksekusi ini atas permintaan firma Hiap Hong di Manadi, dilakukan oleh Mr. M.R. Rinkel, advocast dan procureur Raad Justitie Makasar”
 
Untuk mengatasi hutang dari pedagang perantara terhadap petani, pemerintah mengeluarkan peraturan kontrak baru yang tertuang dalam Copracontrakten Verordening Manado (Staatsblad 1939, No. 93). Dalam kontrak tersebut diatur syarat kepada para pedagang perantara yang melakukan kontrak dengan petani. Sebaliknya, hak pedagang perantara juga mendapatkan perlindungan.

Pasar kopra dunia lesuh akibat krisis ekonomi global. Dengan demikian berarti pendapatan petani kelapa ikut turun. Sementara kebutuhan hidup terus meningkat. Maka, mau tidak mau, petani kelapa Minahasa mencari bentuk produksi lain yang berbasis kelapa. Dan, itu adalah sabun.

Mengutip J.H.R. Broeder dalam tulisannya “De Inheemsche Zeepindustrie in de Minahasa,” yang dimuat di Economisch Weekblad, 23 Februari 1943, Wahyono mencatat, di tahun 1930 sabun yang diimpor dari Inggris dan China sebanyak 987272 kg. Sabun impor nanti mulai menurun ketika mulai terjadi depresi besar. Menyusul berdirinya pabrik-pabrik sabun lokal untuk memenuhi kebutuhan sabun masyarakat Minahasa. Tahun 1933 sabun yang diimpor turun menjadi 60776 kg. Padahal kebutuhan sabun semakin meningkat.

Di tahun 1931, sudah berdiri pabrik sabun di Minahasa. Pabrik ini lebih dulu ada dari pabrik minyak kelapa. ”Industri sabun merupakan dewa penyelamat bagi petani kelapa setelah harga kopra mengalami kemerosotan akibat depresi,” tulis Wahyono.

Di tahun 1930-1933, negara pemasok sabun terutama di Minahasa adalah dari Inggris Raya. Menyusul kemudian China. Meskipun sebenarnya, menurut Wahyono, China hanya bertindak sebagai pengekspor, produsennya tetap adalah pabrik-pabrik yang sama di Inggris. Seperti Lever Bross, Gossage, Grossgfield. Namun, karena perbedaan valuta dan ongkos angkut ke Manado, dalam banyak hal impor dari China yang lebih menguntungkan ketimbang dari Inggris langsung.

Di selang tahun 1930 sampai 1933 itu, angka impor Sabun dari Inggris dan China terus mengalami penurunan akibat depresi ekonomi global di masa itu.  Produksi sabun di Minahasa sangat dimungkinkan karena bahan mentahnya, yaitu kelapa banyak terdapat di daerah ini. Sebelum berdiri pabrik minyak kelapa, rakyat Minahasa memproduksi sendiri-sendiri minyak kelapanya. Waktu itu hanya kopra yang diekspor. Minyak kelapa terutama digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, misalnya untuk masak dan bahan bakar lampu minyak.

Pabrik sabun di Minahasa di masa itu, antara lain terdapat di Sonder. Nama pabriknya Schilstra. Pabrik sabun lainnya terdapat di Wuwuk yang dikelolah dengan sistem koperasi. Pemimpinnya seorang yang bernama Lumy. Bahan mentah minyak kelapa di pabrik sabun ini diperoleh dari produksi minyak kelapa penduduk setempat. Di Manado terdapat dua pabrik sabun milik orang keturunan China yang bernama Tan Kok Tjeng dan Nam Siong.

Tonsea, meski sebagai penghasil utama kelapa dan mengkonsumsi sabun dalam skala besar karena kepadatan penduduknya, tapi pabrik sabunnya nanti dimulai tahun 1934. Pabriknya berdiri di Airmadidi.

Menurut Wahyono, pada awalnya, kualitas sabun yang dihasilkan orang Minahasa tidak terlalu baik dibandingkan dengan sabun impor. Tapi, pabrik-pabrik lokal terus menerus berusaha memperbaiki kualitasnya. Hal ini, antara lain disebabkan oleh tuntutan konsumen yang kian meningkat. Pada masa itu, menurut Wahyono, ”Masyarakat Minahasa sendiri sudah tidak lagi memilih sabun kualitas impor karena merosotnya harga kopra yang telah membuat sulitnya peredaran uang di wilayahnya.” Faktor lain yang membuat sabun produk lokal laku di pasaran karena harga sabun lokal lebih murah terjangkau oleh daya beli masyarakat. 

Menangnya sabun lokal di pasaran Minahasa membuat agen-agen sabun impor terdesak. Pedagang perantara dan firma-firma Eropa yang tidak lagi memiliki agen sabun impor menjadi tertarik untuk memasarkan sabun lokal yang memang laku di pasaran. Pemasaran sabun akhirnya tidak lagi dimonopoli perusahaan-perusahaan impor, tetapi telah menjadi milik bersama masyarakat Minahasa.  Setidaknya, sabun menjadi penyelamat sebagian nasib petani kelapa di Minahasa di masa depresi ekonomi global di era tahun 1930-an itu.

Ini tentu secuil kisah petani kelapa di Minahasa di tengah depresi besar tahun 1930-an. Kisah yang lain adalah ratapan kebangkrutan dan kemiskinan akibat hutang yang menumpuk dan salah urus yang dialami sebagian petani kelapa Minahasa. Merekalah yang di saat harga kopra berjaya lebih memilih berpesta pora dan bergaya dengan mobil baru. Namun, di saat harga kopra anjlok diterjang depresi ekonomi global, mereka hanya bisa menangis di tengah ”kuburan mobil.”  
                                   
Hampir dua dekade kemudian, di tahun 1957 muncul pemberotakan Permesta. Permesta dideklarasikan di Makassar – sebuah kota pelabuhan besar waktu itu – pada 2 Maret 1957. Pada tanggal 8 sampai 2 Mei 1957 diadakan Kongres Bhinekka Tunggal Ika. Kongres ini dilaksanakan untuk  untuk memenuhi Piagam Permesta. Ketua panitianya Henk Rondonuwu. Kongres ini dihadiri sekitar 1500 orang. Mereka perwakilan dari 30 kabupaten se-Indonesia Timur, para anggota DPP Permesta, wakil-wakil daerah di DPR (di Jakarta) dan Konstituante (di Bandung). Presiden dan Wakil Presiden juga diundang. Tapi mereka tidak hadir.

Menarik. Salah satu rancangan pembangunan yang dirumuskan dalam kongres itu adalah pendirian pabrik sabun dan minyak kelapa. Rancangan ini disebutkan bertujuan untuk menggerakkan industri rakyat. Sayang, pabrik sabun belum berdiri, tentara-tentara Permesta sudah harus berperang dengan tentara pusat. Maka terjadilah pergolakan Permesta. Barbara Harvey, peneliti sejarah Permesta mengatakan, salah satu pemicunya adalah keadaan ekonomi rakyat Minahasa yang lemah. Kondisi ini disebabkan oleh ketidakadilan ekonomi, yaitu monopoli pusat dalam pembelian dan perdagangan kopra Minahasa.



Jumat, 26 Agustus 2011

Mayor Frans Karepouwan Lebih Takut Tinju Kolonel D.J Somba

|3 komentar
BATALION ' R ' JIN KASUANG ' dari kiri kekanan : ? , Telly Karepouan [ anak dari komandan BATALION Bpk FRANS KAREPOUAN ] , Frits Malilangkay , Ocky Senduk , Ronny Senduk , Bobby Kaunang , Eddy Lumowa [ diatas kuda], yang jongkok pegang senjata Nico Mamuaya. Foto: Koleksi Erwin
Sepenggal Kisah Nyata Seputar Instruksi Dhar-004/Aprev-Permesta

Oleh: Erwin Saderac Pioh

Secara singkat isi instruksi DHAR-004 adalah; pemindahan pasukan ADREV-Permesta WK.III/Brigade Pancasila dibawah Kolonel (ADREV/Permesta) W. Tenges yang berlokasi di Minahasa atau KDP-II ADREV-Permesta ke Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Tengah ke bekas Wilayah RTP-Anoa/ADREV-Permesta. Tetapi instruksi ini akhirnya dibatalkan setelah berbagai pertimbangan oleh pucuk pimpinan APREV-Permesta.

Tetapi sebuah lelucon terjadi seputar setelah pembatalan instruksi DHAR-004. Di markas WK.III di Tangkunei para perwira WK.III dan beberapa perwira staff KDPII/ADREV-Permesta berkumpul untuk pemberitahuan mengenai pembatalan instruksi. Hadir waktu itu termasuk komandan-komandan Batalion dari WK.III dan beberapa komandan unit-unit otonom. Tepat setelah pemberitahuan pembatalan belum semua komandan Batalion hadir, yaitu; Komandan Batalion R/”Jin Kasuang” Mayor (ADREV-Permesta) Frans Karepouwan. Pada saat itu munculah ide Kolonel (ADREV/Permesta) untuk mengerjai Komandan Batalion R/”Jin Kasuang,” dan memberi tahu yang lain di Markasnya untuk ikut skenerionya.

Tak lama Kemudian Komandan Batalion R; Mayor (ADREV-Permesta) Frans Karepouwan dan peleton kawalnya muncul di markas WK.III dan melapor ke Komandan WK.III; Kolonel (ADREV-Permesta) W. Tenges.

Terjadi Percakapan:

“Lapor Komandan (sambil memberi hormat), Batalion R/Jin Kasuang melapor kesiapan ikut rapat Instruksi DHAR-004,” Mayor Karepouwan melapor.

Kolonel Tenges (dengan raut wajah serius) berkata, “Dipersilahkan mengambil tempat Mayor….” Dia lanjut bicara, “Begini Frans saya jelaskan, sebelumnya anda sudah tahu-kan, lewat tembusan kawat sebelumnya tentang rencana operasi ADREV-Permesta DHAR-004?

“Siap, komandan…” balas Mayor Karepouwan.

Kolonel Tenges lalu berujar, “Ini rinciannya;…Bahwa kita pasukan WK.III harus hijrah ke wilayah pertempuran baru, ke tempat wilayah yang telah di tinggalkan RTP-“Ular Hitam” dan RTP-“Anoa” ADREV/Permesta-tepatnya di Gorontalo dan sebagian wilayah Sulawesi Tengah, kedua wilayah tersebut sekarang ini sebagian besar-nya berada dalam pengawasan musuh, dan dalam pemenuhan instruksi ini kita pasukan WK.III harus se-segera mungkin berangkat ke-sana!”

“Dan Frans, Batalion anda saya perintahkan berada paling depan dari formasi Brigade WK.III, sekarang segera siapkan Batalion R untuk persiapan operasi…”

“Komandan, ijin untuk bicara,” kata Mayor Karepouwan sambil mengangkat tangan kanannya.

“Ya, dipersilahkan…”

“Komandan,…saya siap melaksanakan perintah, tapi coba komandan pikir! Dari mana perlengkapan kita untuk kesana, apakah kita sudah memiliki tambahan amunisi dan personel?? Kita Batalion R di daerah kasuang itu saja sangat kesulitan logistik, untung-untungan diberikan makanan dari rakyat sekitar yang bersimpati kepada pasukan ADREV-Permesta,…”

Dia juga bicara dalam dialek Manado, ”Eh masa komandan nyanda tau? Torang di Batalion R kadang ja makang tentara pusat(TNI-Jawa) kalo dorang lewat patroli pa torang pe daerah, kong skarang dorang so jarang lewat,….kong bagimana torang mo pindah ke Gorontalo-Sulawesi Tengah sekitar 400 kilo meter dari sini, apa tu KSAD so Gila?!

Kolonel Tenges dan lain-lainnya di Markas WK.III tertawa terbahak-bahak. Sementara Mayor Frans masih dalam raut wajah serius terus berbicara....

Tak lama setelah gelak tawa tersebut, Kolonel Tenges memberitahukan yang sebenarnya. Bahwa Instruksi DHAR-004 telah dibatalkan, dan untuk itulah rapat singkat itu diadakan.

Tak lama kemudian Mayor Frans Karepouwan berkata, “Kurang ngajar, batal kote’ kwa…, sudah kalo bagitu kita deng pengawal pengawal so mo bale ke Batalion, jang Tentara Pusat tahu kita nda ada di Batalion kong dorang patroli.”

Kolonel Tenges balas berujar, “Iyo, Frans batal torang mo pigi. Hehehehehehehehe kita cuma mo test pa ngana pe kesiapan.… Oke dipersilahkan kembali ke Batalion.”

Setelah memberi hormat ke komandan WK.III Mayor Frans Karepouwan segera melangkah keluar markas dan di ikuti peleton kawalnya sambil masih mendengar tawa senda gurau dari beberapa staff WK.III.

Tak lama kemudian seorang Perwira Staff berseru, “Kalo bagitu jang lupa Mayor Frans tangka banya banya tu TNI for Brigade pe logistik.”

Suara gelak tertawa kembali terdengar sementara Mayor Frans melangkah pergi.  Sambil menggerutu dan berseru kepada mereka, dia berkata, ”So Gila tu rencana DHAR-004! deng ngoni lei so saraf kurang da tatawa!”

Tertawa pun semakin keras mengiringi langkah Mayor Frans Karepouwan dan peleton kawalnya. Dia sempat berkata kepada anak buahnya, “Kurang ngajar! Dorang Kolonel Tenges so beking badot pa kita ini hari.” Pengawal-pengawalnya berusaha menyembunyikan senyum geli dan tak berani tertawa.

Pada tahun 1958 sampai 1961, wilayah tugas Batalion R/ “Jin Kasuang”/WK.III/KDP-II ADREV-Permesta berada di ruas jalan antara Tomohon-Tondano. Batalion pimpinan Mayor (ADREV-Permesta) Frans Karepouwan ini sangat ditakuti oleh TNI di wilayah tersebut. Hampir semua patroli TNI di wilayah tersebut diserang setiap berpatroli. Banyak personil TNI hilang di daerah ini dan tak pernah diketahui lagi keberadaanya sekalipun telah dilakukan pencarian setelah perang Permesta. Gara-gara itu, Batalion “R” ADREV-Permesta itu dijuluki oleh TNI asal Jawa sebagai  “Jin Kasuang,” sebuah kekecualian nama julukan yang didapat bukan dari kalangan pasukan Permesta, atas keberanian bertempur dan kengerian yang mereka timbulkan terhadap lawan. Kengerian yang mereka timbulkan bukan tanpa sebab; beberapa sebab adalah perlakuan pasukan TNI sendiri terhadap daerah pendudukan dengan menyiksa tawanan sampai mati, melakukan pembunuhan terhadap rakyat sipil yang memberi makan pasukan Permesta, dan perkosaan di desa-desa. Hal hal ini dilakukan TNI karena semata-mata menutupi kekalahan mereka. Juga karena semakin banyaknya korban di pihak mereka dan perang tak kunjung dimenangkan oleh pasukan TNI/pemerintah pusat Jakarta, sekalipun TNI menguasai Kota-kota Strategis di Sulawesi Utara dan Maluku Utara.

Dalam pertemuan dengan ex-Overstee (ADREV-Permesta) W. Sigar yang kemudian pensiun Kolonel TNI, pada sebuah acara di tahun Januari 2004 di tempat dari ex-KSAD (ADREV-Permesta) H. N. V Sumual, W. Sigar menjelaskan jumlah korban yang signifikan yang pernah dilihatnya dalam Arsip-Arsip KOSTRANAS pada awal-awal 1980-an ketika beliau bertugas disana. Dari total unit-unit TNI-AD yang bertugas di perang Permesta tercatat kehilangan kurang lebih 17,000 personil di luar dari mereka yang luka-luka dan invalid. Dalam rincian tersebut juga disebut ada beberapa batalion dari KODAM V/Brawijaya di isi kembali personilnya sampai 3-4 kali karena pernah ada Batalion tersisa 1 kompi jumlah personilnya dari awal diberangkatkan dari pulau Jawa. Bahkan ada kompi dalam Batalion yang pernah tinggal Komandan Kompi-nya yang hidup.

Pasukan Batalion R/”Jin Kasuang” akhirnya dapat ditertibkan akhir 1960 setelah sebuah kunjungan oleh Panglima KDP II/Minahasa, Kolonel (ADREV-Permesta) D. J Somba ke markas mereka. Dia memperingatkan mereka untuk menghentikan bentuk-bentuk perang urat-saraf yang melampaui batas-batas. 

Pada suatu hari, dalam sebuah jamuan makan di Markas Batalion R/”Jin Kasuang,” Panglima KDP II/Minahasa Kolonel (ADREV-Permesta) D.J Somba tidak memakan makanan yang disiapkan. Dia khawatir jangan menu makanannya mengandung daging Tentara Pusat/Jakarta. Sambil tetap memperhatikan Komandan Batalion R/”Jin Kasuang” melahap makanannya, panglima Somba memperingatkan bahwa dia akan meninju mereka apabila kedapatan atau ada laporan tentang cara-cara mereka tersebut.

Rupanya Tinju Kolonel (ADREV-Permesta) D. J Somba lebih ditakuti Batalion R/Jin Kasuang. Mengingat, konon tinju Kolonel (ADREV-Permesta) D.J Somba pernah membuat seekor sapi pusing dan roboh. Sekali saja sang Kolonel meninju, sapi itu roboh!

(tulisan ini dikutip dari grup suararakyatminahasa@groups.facebook.com, atas seizin penulisnya dan telah dilakukan editing oleh pengelola blog Minahasaku)