Tampilkan postingan dengan label Keker. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keker. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Juni 2012

Minahasa Menggugat

|0 komentar
Oleh Denni Pinontoan

Foto Eka Egeten
menggebleng rakjatperkuda organisasiperkedok partai,
terus teruskan itumuliakan dirikelilingdjemulaparhaus kebebasanrindukan stabilisasi tiga zaman sudah pergijang ketiga lebih gilademikian dialami

Begitu J F Malonda, pengarang  asal Minahasa mengeluhkan keadaan Tanah Minahasa, Tou, Tanah dan  Adatnya. Ia menulis sajak yang berjudul "Biadab" itu tahun 1951 (J.F. Malonda, Membuka Tudung Dinamika Filsafat Purba Minahasa, Manado: Jajasan  Budaja "W'ongken Werun", 1952).  Sebagaimana sajak itu ada, "Biadab" ini juga sedang merefleksikan sesuatu. Sesuatu itu bisa mengenai yang hidup, bernafas dan berpikir bisa juga yang  tidak bergerak, diam dan membisu. Bisa  soal kedukaan, bisa juga soal kesukacitaan. .
Kentara sekali, Malonda ada dalam suatu keprihatinan yang mendalam, sehingga menggugat.  Sudah pasti, yang sedang menjadi keprihatinannya adalah Tou, Tanah dan Adat Minahasa. Situasi politik, ekonomi, sosial dan budaya yang sedang dalam keadaan terdesak, adalah realitas semasa Malonda hidup. Realitas, sejatinya bersifat empiris. Tapi, realitas tidak berdiri sendiri. la dibangun oleh berbagai kepentingan yang bisa baik, tapi juga kebanyakan di antaranya ada yang jahat. Realitas kemiskinan, peperangan dan ketidakadilan misalnya, sudah jelas dibangun oleh berbagai kepentingan penguasa dan pemilik modal yang jahat .
Di  bagian lain tulisannya dalam buku itu, Malonda menilai bangsa Barat – yang adalah penjajah- yang  merasa diri superior dengan segala arogansi intelektualnya dan hegemonistik,  pada akhirnya memang menindas bangsa Timur, termasuk Minahasa. Katanya, "Memang pinter sekali pribadi-pribadi Barat memakai kebudajaan-kebudajaan  Timur yang terkenal mendalam dan kehalusannya, sebagai alat. ... Sesudah membawa perobahan dalam kebudajaan-kebudajaan Timur sesuai dengan kehendak mereka, kebudajaan-kebudajaan itu dikembalikan ke Timur, untuk menindas masjarakat Timur".
Tapi, dia mencatat perlawanan Tou Minahasa terhadap keadaan yang menindas tadi itu. Sejumlah peperangan Tou Minahasa melawan bangsa penjajah, dalam refleksi kita sekarang adalah untuk menggugat ketidakadilan dan untuk mengumumkan kepada dunia bahwa, "Kami  Tou Miinahasa adalah manusia merdeka. Masyarakat Kami demokratis dan egaliter. Sehingga penjajahan dalam bentuk apapun harus dihapus!”
Tapi jauh sebelum Malonda menulis tentang protesnya terhadap bangsa Barat yang barangkali hampir tidak ada bedanya dengan kekristenan pada waktu itu, N Graafland, di pertengahan dan penghujung abad 19, mengungkapkan dengan pujian tentang peran kekristenan yang dibawa masuk oleh bangsa Barat itu. Katanya: ”Apakah segala sesuatu yang telah dicapai orang-orang Kristen itu masih kurang’, ‘Untuk menangkis anggapan seperti itu saya hanya mengajukan pertanyaan, ‘Dari mana daerah-daerah ini - di mana paham Kristiani bukan saja memegang peranan yang menentukan,  melainkan juga telah dipeluk oleh semua orang – memperoleh persedian makanan? Dari mana orang Kakas memperoleh makanan yang dibutuhkan, dan dari mana Negeri Kawangkoan dan apalagi negeri Wuwuk berserta beberapa negeri yang berada di sekitarnya memperoleh beras dan jagung yang kemudian dijual ke Amurang? 'Daerah pesisir Tondano yang khususnya dihuni orang-orang Kristen, sering kali memenuhi kebutuhan Negeri Tondano pada masa-masa paceklik..”

Graafland, sebenarnya ingin mengatakan bahwa kemajuan dan harapan kemakmuran di Tanah Minahasa adalah jasa dari Kekristenan. Kalau begitu, siapa yang benar dan siapa yang salah, Malonda dengan protesnya atau Graafland dengan pujiannya?
Kita sebenarnya tidak sedang bicara benar atau salah. Karena ternyata kebenaran sejatinya ada dalam ketidakbenaran. Tapi kita bicara tentang keberadaan tanah kita Minahasa. Karena di satu pihak, kekristenan yang dibawa oleh bangsa Barat di abad-abad lampau telah cukup memberi peran untuk kemajuan negeri ini. Tapi, di pihak lain, perjumpaan  kekristenan dan keminahasaan yang kadang tidak terjadi secara dialogis telah menyebabkan terkikisnya nilai-nilai budaya peninggalan leluhur. Pada beberapa hal, keberadaan Tanah Minahasa menjadi kabur. Identitas Minahasa yang berbudaya, demokratis dan egaliter, vis-a-vis dengan nilai-nilai Barat yang telah menformat sedemikiaan rupa nilai-nilai kekristenan yang mestinya penuh kasih, bersahabat dan membebaskan menjadi superior, hegemonisrik dan feodalistik

Sehingga yang ingin saya katakan, bahwa persoalan kita bukan pada nilai-nilai kekristenannya, yang sekarang secara lembaga banyak dianut oleh Tou Minahasa melainkan ada pada paradigma atau pandangan hidup orang-orang yang membawanya masuk pada abad-abad lampau itu. Riedel, Schwarz, Graafland dan penginjil-penginjil lain berbangsa Barat yang membawa masuk kekristenan di Tanah Minahasa, datang dengan satu semangat yaitu mengkristenkan Tou Minahasa, yang menurut paradigma yang sedang laku dunia mereka, sebagai orang-orang kafir, bodoh dan itu yang mereka sebut alifuru. Di luar dunia Barat, menurut mereka adalah berdosa sehingga perlu ditobatkan.

Nilai-nilai kekristenan akhimya  memang mengalami pergeseran. Dari nilai yang penuh kasih, bersahabat dan membebaskan, ketika diambil alih oleh Barat dan kemudian diformulasi dengan paradigmanya yang mengagungkan subjek-objek, akhimya menjadi superior, hegemonistik, feodal, dan kebenaran menjadi tunggal. Sampai saat ini pun kita Tou Minahasa masih berada dalam pengaruh paradigma itu. Alhasilnya, Tou, Tanah dan Adat Minahasa, menjadi abu-abu, antara kebarat-baratan dengan paradigmanya itu dan keminahasaan, yang terkesan memaksa diri untuk mempertahankan apa pesan leluhur. Itu antara lain persoalan kita.

Sementara kita masih bersoal dengan itu, kita pun berhadapan dengan hegemonisasi budaya Jawa dan budaya lain yang juga feodalistik. Ini persoalan kita yang lain. Persoalan ini kompleks. Karena dia bukan saja murni gerakan budaya, tapi telah tampil bersimbiosis mutualis dengan sistem politik, sosial dan ekonomi Negara. Dia hampir masuk ke semua lini kehidupan. Nyong dan Nona Minahasa yang nanti mengangggap diri modern  ketika menyebut nyaku dengan gue, angko dengan loe, inang dan amang dengan nyokap dan bokap, dan lain-lain adalah contoh nyata hal itu. Juga, pemerintah kita yang mengganti sistem pemerintahan wanua/roong dengan desa atau kelurahan.  dan kepala pemerintahanya dari hukum tua, menjadi kepala desa  dan lurah  Sebelumnya, sebutan ukung untuk menunjuk kepala pemerintahan di tingkat wanua/roong juga telah dirubah menjadi hukum tua.

Belum lagi kalau kita berjalan-jalan di Boulevard malam atau siang harinya. Makanan khas kita, tinutuan/pedaal harus kalah bersaing dengan mie bakso, soto makassar dan cap cae. Atau antara RW, tinoransak dan ragey dengan KFC, ayam kalasan, dan lain-lain.
Hegemoni budaya Jawa dan lain-lain itu, pada akhimya memang telah bercampur baur dengan sistem negara kita yang kemudian menjadi sentralistik. Apakah karena kebanyakan pemimpin negara ini ditingkat pusat orang adalah orang orang Jawa yang lama hidup dengan sistem dan nilai budayanya yang feodalisitik (kita ingat, di Jawa dulunya banyak kerajaan yang bercokol) atau karena persoalan kekuasaan yang harus direbut dan dipertahankan. Belum terlalu jelas. Yang pasti, Tou, Tanah dan Adat Minahasa, sedang dalam keadaan terancam keberadaannya

Dengan mempersoalkan pengaruh bangsa Barat yang telah mendesain sedemikian rupa nilai-nilai kekristenan sesuai kepentigannya dan hegemoni budaya juga agama, bukan berarti saya sedang menolak perubahan atau keberadaan yang lain. Keprihatinan kita bersama adalah soal ancaman punahnya identitas dan harga diri Tou, Tanah dan Adat Minahasa. Kalau tidak disikapi secara serius, hal-hal ini memang akhimya akan menjadi penyebab dan mengancam.

Saya sadar, bahwa Tou Minahasa  ada dalam perubahan, yang antara  lain karena tuntutan perubahan dunia. Globalisasi telah membuat bumi yang kita pijaki ini mirip sebuah dusun kecil. Karenanya, pengaruh-pengaruh luar, baik yang positif maupun yang negatif akhirnya memang menjadi realitas kehidupan. Belum lagi semangat liberalisme dalam bidang ekonomi, yang merupakan tantangan sekaligus peluang. Pluralitas dalam berbagai hal, mestinya menghasilkan paradigma yang pluralis (pluralisme). Dan hal itu, mestinya tidak  serta-merta membuat Tou, Tanah dan Adat Minahasa menjadi relatif karena perjumpaan dengan yang lain.

Perjumpaan harus aktif dalam memaknai perbedaan. Kalau sudah begini pemahaman kita, maka Tou, Tanah dan Adat Minahasa, yang dalam diskusi kita sedang dalam kepungan hegemoni budaya bangsa Barat, yang kini kebanyakan di antaranya masih tampil dengan superioritas dan arogansi intelektualrrya juga budaya lain yang feodalistik, harus tampil dengan suara-suaranya yang menggugat. Salah satu bentuk gugatan itu, pertama-tama adalah membuat autokritik tentang keberadaan Minahasa kita, kemudian bertanya, apa yang  telah Tou Minahasa buat berhadapan dengan realitas yang mengancam itu? Dari mana kita memulainya? Apa kekuatan kita untuk melawannya?
Pertanyaan-pertanyaan ini akan  terjawab kalau kita bersatu dalam  kepelbagaian dengan cara saling  berdialog/berdialektika. Kemudian dilanjutkan dengan membangun kekuatan bersama secara politik, sosial, ekonomi dan tentu budaya. Minahasa harus tampil sama tinggi dan besar dengan bangsa-bangsa lain. Minahasa harus menggugat.

Karena Minahasa, menurut Rosihan Anwar, yang waktu itu pemimpin Harian Pedoman dan Mingguan Siasat Djakarta, dalam Ipphos Report tahun 1949, seperti dikutip Malonda dalam bukunya itu adalah, ” Satu-satunya daerah agaknya juga diseluruh Indonesia yang ketjerdasan penduduknja rata-rata sangat tinggi adanja.”

Selasa, 20 Desember 2011

PEMUDA MINAHASA DAN PERUBAHAN ZAMAN

|0 komentar
Berdiskusi, salah satu kegiatan orang muda Minahasa hari ini

Oleh: Fredy Sr. Wowor, Sastrawan, Pekerja Teater dan Dosen Tetap Fakultas Sastra UNSRAT

Salah satu masalah mendasar yang kerap kali menghantui kaum muda minahasa adalah masalah kepercayaan diri. Masalah kepercayaan diri ini, menurutku terkait sekali dengan politik pencitraan yang dilakukan oleh para penguasa dari setiap zaman di sepanjang lintasan sejarah orang Minahasa.

Pada zaman kompeni-hindia belanda misalnya, kita disebut sebagai orang-orang alifuru yang berarti orang-orang yang tidak beradab. Usaha pembentukan citra kita sebagai orang yang tidak beradab terutama dilakukan dengan mengeksploitasi leluri-leluri atau kisah-kisah masa lalu kita terutama yang terkait dengan soal asal usul yaitu kisah Lumimuut dan Toar. Kisah Lumimuut dan Toar sebagai persetubuhan antara ibu dan anak yang semula hanya merupakan salah satu versi dari sekian versi yang ada di dalam leluri-leluri para walian di seluruh wilayah Malesung kemudian ditetapkan oleh para ahli dari eropa sebagai versi yang dominan. Hal ini jelas tidak bisa dilepaskan dari politik kebudayaan kaum orientalis yang senantiasa menetapkan bahwa barat beradab dan timur tidak beradab, barat paling maju dan timur paling terbelakang. Politik kebudayaan yang senantiasa menempatkan segala hal pada posisi oposisi biner. Wacana yang memang menjadi landasan dari politik imperialisme.

Pada zaman awal kemerdekaan, orang minahasa disebut sebagai antek-antek atau kaki tangan penjajah. Orang-orang yang makan roti belanda. Citra ini dibangun dengan landasan pemikiran bahwa selama masa penjajahan Belanda, orang minahasa menikmati status lebih dibandingkan bangsa-bangsa lain di masa itu. Hal ini dibuktikan dengan melihat banyaknya orang minahasa yang terpelajar dan kemudian menjadi pegawai di kantor-kantor milik pemerintah atau menjadi tentara. Kedudukan-kedudukan ini menempatkan orang minahasa secara ekonomi lebih mampu.
Pada era pemerintahan orde lama dan orde baru, orang minahasa juga mendapat status baru sebagai kaum pengkhianat. Ini terkait dengan peristiwa piagam Permesta yang telah mengakibatkan peperangan dan korban baik manusia maupun materi. Politik pencitraan dimasa ini sangat terkait dengan usaha sistematis untuk membatasi peran orang minahasa di bidang sipil dan militer.

Pertanyaan kemudian yang bisa dimunculkan adalah mengapa harus ada usaha-usaha pembunuhan karakter terhadap orang minahasa dan bagaimana sebenarnya perkembangan kaum muda maesa di setiap zaman ?

Menurutku, adanya usaha-usaha pembunuhan karakter ini justru sangat terkait dengan kehadiran kaum muda. Munculnya generasi baru di setiap zaman berarti munculnya motor penggerak perubahan dari sebuah zaman yang baru. Munculnya generasi baru sangat menentukan kemajuan dan masa depan Minahasa, untuk itulah maka generasi baru ini harus dibuat kehilangan jati dirinya. Kehilangan identitasnya. Kehilangan rasa percaya dirinya. Sebab generasi yang telah kehilangan rasa percaya dirinya akan senantiasa hidup dalam kebimbangan dan tidak bisa lagi menentukan sikap. Ia akan selalu ikut arus tidak perduli arus itu akan membawanya ke dalam jeram kehancuran.

Adapun perkembangan kaum muda maesa di setiap zaman adalah sebagai berikut:
Pada zaman colonial, kaum muda minahasa banyak yang menjadi guru dan sangat berperan dalam proses pendidikan di seluruh wilayah nusantara. Dalam perkembangan kemudian, kaum intelektual yang dengan sadar mengambil kelebihan dari pengetahuan barat ini menjadi pelopor ideologis maupun praktis bagi perjuangan melawan penjajahan colonial belanda. Kita bisa menyebut antara lain, Ward Kalengkongan, ahli budaya yang kemudian menjadi sahabat dekat dan guru ideology dari Douwes Dekker Tokoh Nasionalis pendiri Indische Partij yang menuntut Hindia diperintah oleh Orang Hindia – Indie voor de Indier. F.D.J Pangemanann, pengarang dan pelopor pers, J.H. Pangemanan, pelopor pers dan pendiri Rukun Minahasa di Semarang. Sam Ratulangi, pelopor pers, futurolog. Ketua indische vereniging (Perhimpunan Indonesia). Arnold Mononutu, wakil Perhimpunan Indonesia di Prancis.

Pada zaman kemerdekaan, kita bisa menyebut antara lain J.F Malonda, sastrawan dan filsuf, penulis buku Membuka Tudung Filsafat Purba Minahasa. Giroth Wuntu, penulis roman Perang Tondano, H.M Taulu, penulis sejarah Minahasa dan Kisah pingkan Matindas (Bintang Minahasa), Jappy Tambayong (Remi Silado) Seniman serba bisa
Pelopor puisi Mbeling. Benni Matindas, penulis karya filsafat setebal seribuan halaman berjudul Negara Sebenarnya. Harry Kawilarang, wartawan dan penulis buku tentang terorisme internasional.

Pada penghujung era Orde Baru juga muncul gerakan budaya melalui kegiatan sastra,teater dan musik melalui Teater Kronis Manado, KONTRA, dan Teater Ungu. Gerakan budaya ini kemudian bermuara pada apa yang sekarang dikenal sebagai Mawale Movement : Gerakan Membangun Tempat Tinggal. Gerakan yang bertolak dari penulisan karya sastra berbahasa Melayu-Manado dan juga bahasa minahasa, eksperimentasi teater dan musikalisasi puisi serta pembangunan basis dan jaringan kebudayaan di seluruh Sulawesi Utara lebih khusus lagi Minahasa, Minahasa Selatan Minahasa Utara, Tomohon dan Minahasa Tenggara.

Apa yang bisa dijadikan permenungan dari kisah kaum muda Minahasa dari zaman dahulu sampai zaman sekarang adalah semangat untuk senantiasa menuntut pengetahuan yang lebih maju dan sikap kritis serta semangat kepeloporan untuk melakukan perubahan. Si Tou Timou Tumou Tou.


Minggu, 20 November 2011

Minahasa dalam Facebook

|0 komentar
Oleh Denni H.R. Pinontoan

Situs jejaring sosial temuan Mark Elliot Zuckerberg, Facebook, adalah ruang diskusi publik yang murah tapi meriah. Manusia dari beragam ras, agama, dan status sosial bisa berjejaring dalam kata, suara dan gambar. Dalam canda, marah ataupun, bisa berujung dendam. Facebook, adalah dunia maya, yang matematis, tapi bisa membangkitkan emosi. Facebook adalah produk budaya digital. Di mana manusia tak lagi ditentukan oleh ruang dan waktu.

Ada sebuah grup Facebook yang nama belakangnya menggunakan nama Minahasa. Memang, grup itu dimaksudkan sebagai forum diskusi tentang Minahasa dan keminahasaan. Jumlah anggota grup itu telah mencapai 5000-an. Tidak semua akun menggunakan nama asli. Bahkan mungkin ada yang sudah punya dua, atau tiga nama akun yang berbeda-beda. Bermacam-macam orang dengan latar belakang keilmuan serta profesinya, saling mengadu argumen di grup ini. Yang pada banyak hal, sering tidak berkenaan dengan Minahasa dan keminahasaan. Dunia maya, memang dunia maya. Siapa saja boleh menyamar.

Topik diskusi bermacam-macam. Memang namanya grup Minahasa. Tapi, di grup ini didiskusikan juga sains, iman atau agama dan ketotololan menanggapi ateisme. Minahasa, direduksi sedemikian rupa dalam cara pandang yang simplistik dan konservatif. Memang, banyak juga yang tampak kecerdasan dan keterbukaannya. Tapi yang liberal, progresif dan bahkan revolusioner ini sering mendapat makian, cercaan dan stigma negatif. Grup ini, akhirnya menjadi ruang ajang saling mendesktruksi, sedikit saja yang saling mencerdaskan.

Minahasa dalam Facebook, menggambarkan sebuah dinamika dan pergulatan intelektual. Orthodoksi, status quo, fundamentalis versus liberal, progresif dan revolusioner. Tapi, sebuah akun, tidak statis dalam satu posisi. Hari ini liberal, besok fundamentalis. Atau, hari ini berkawan dalam berkomentar, namun besok bisa berbeda pendapat. Ada juga seperti beronani, karena pertanyataanya ditanggapi oleh komentarnya sendiri. Dan, banyak pula yang narsisitik. Yaitu, men-like komentar sendiri. Facebook, seolah berhasil membawa dinamika intelektual manusia-manusia berbudaya Minahasa  dalam sebuah pertarungan yang tiada henti. Sebuah pertarungan yang tiada ujung, tiada kata sepakat dan bahkan tiada arti. Ada bahaya nihilistik!

Itu tentu dugaan saya, yang bisa salah. Dugaan saya berangkat dari kenyataan bahwa Facebook adalah dunia bentukan matematika. Dunia angka-angka yang sejatinya tanpa rasa. Dan, semua semu adanya. Sangat beda dengan diskusi di perampatan jalan, rumah kopi atau di lobby hotel. Di mana pribadi-pribadi saling berjumpa. Dengan wajah yang senang, marah atau kecewa karena bersepakat atau berbeda pendapat.

Facebook, membuka hari-hari manusia dengan pertanyaan ”What’s on Your Mind?”, Apa yang Anda Pikirkan? Facebook memperlakukan manusia sebagai makhluk pemikir. Seolah, Facebook tidak diperuntukkan bagi manusia yang tidak berpikir, manusia yang hanya berhalusinasi.  Teringat adigium Rene Dascartes ”cogito ergo sum”, aku berpikir maka aku ada. Status keberadaan seorang manusia, sangatlah rasionalistik. ”Aku” berada hanya jika ”berpikir”. Atau, adanya ”aku” kalau menyangsikan semua hal. Saya tak tahu, kalau Mark Elliot Zuckerberg, dengan Facebooknya, bermaksud mengantar manusia pada metode kensangsian. Kalau ya, bisa saja Facebook adalah jejaring sosial bagi manusia-manusia yang saling menyangsikan. Manusia Facebook, adalah manusia yang harus berpikir. Karena, tulisan pintu rumah Facebook ”What’s on Your Mind?” Maka, Facebook, adalah rumah bagi perjumpaan kebenaran yang tiap hari mestinya diverifkasi.

Bahasa Facebook, adalah bahasa tulis, yang ringkas dan padat. Untuk membuktikan bahwa seseorang adalah makhluk berpikir, cuma dibutuhkan 240 karakter. Memang, ada untuk tempat catatan, yang panjangnya bisa 1000, 2000 karakter atau lebih. Maka, untuk menegaskan rasionalistiknya Minahasa, cuma dibutuhkan 240 karakter. Tapi, berbeda dengan dinding grup. Grup Facebook meminta untuk ”tuliskan sesuatu,” yang bisa panjang, lebih dari 240 karakter. Minahasa dalam Facebook, adalah manusia yang matematis, tapi anehnya ia bisa membangkitkan emosi. Facebook juga menyediakan ruang untuk memaki dan memfitnah dalam bentuk tertulis. Sehingga terdokumentasi dan menyimpan dendam yang lama. Inilah Minahasa dalam budaya digital.

Tentu, Facebook, adalah juga ruang berbudaya. Bagi Tou Minahasa, ya, adalah ruang untuk berbudaya Minahasa. Facebook, atau situs jejaring sosial lainnya adalah media berbudaya karena dia menjadi alat saling berbagi informasi, pikiran dan mungkin juga alat propaganda. Konon, situs jejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter telah berperan dalam revolusi di Mesir. Di Indonesia pengorganisasian massa untuk menolak atau mendukung sesuatu atau sesorang, juga menggunakan situs jejaring sosial. Misalnya, Gerakan "Koin Peduli Prita." Situs jejaring sosial telah menjadi media untuk mengajak masyarakat khususnya para pengguna internet mengumpulkan uang koin untuk disumbangkan kepada Prita Mulyasari. Uang ini untuk membayar denda Prita kepada RS OMNI Internasional Alam Sutera yang bernilai Rp 204 juta.

Minahasa dinamis. Seperti Facebook yang terus dimodifikasi. Dinamika di dalamnya dalam bentuk kata-kata, gambar dan suara. Setiap hari, ada warta yang baru di Facebook. Ada gambar yang baru. Terkadang, ada juga video yang baru. Namun, bahayanya, selain akun bisa palsu sehingga komentarnya juga palsu, informasi yang ditulis dan ditautkan di Facebook, juga sangat beragam. Terkadang, sulit menyeleksi, mana informasi yang benar-benar fakta.

Informasi mengenai Minahasa, dalam bentuk berita, pikiran dan apapun itu, juga sulit ditentukan mana yang benar-benar asli. Kebenaran absolut memang tidak bisa ditemukan di Facebook. Tapi, mestinya, interaksi atau dialog yang terbuka dan kritis serta beretika, bisa melahirkan ”kebenaran”, yaitu kesadaran bersama, atau juga kesadaran kritis. Kebenaran Facebook adalah kebenaran rasionalistik, khas modernitas yang tak harus didikotomikan dengan posmodernitas. Kesadaran akan pentingnya berpikir yang harus kritis. Minahasa dalam Facebook, adalah Minahasa yang setiap harinya bertanya, dan terus berusaha mencari jawab. Minahasa yang belum final, karena dia hidup, dan terus berubah.








Sabtu, 22 Oktober 2011

Agama dan Agama yang Bernama Negara

|0 komentar
Oleh: Denni Pinontoa

Dua institusi ini sering berkelahi. Atau juga sering berselingkuh. Padahal, mereka adalah kembar. Agama dan Negara. Agama adalah juga negara. Dan, negara, sebenarnya adalah juga agama. Agama-agama itu sesungguhnya, bukan hanya, misalnya agama Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, Sikh, dan lain-lain. Tapi, sekali lagi, ada agama yang bernama negara.

Kalau agama-agama pada umumnya menyembah Tuhan sebagai yang Maha Kuasa, maka bagi negara, Tuhannya adalah kekuasaan. Nabi agama negara adalah para pahlawan atau pendiri negara. Korban persembahannya adalah pajak dan sering juga bahkan nyawa rakyatnya. Umat agama negara adalah rakyat. Ritualnya dilaksanakan setiap hari raya kenegaraan, semisal agama negara Indonesia adalah setiap tanggal 17 Agustus atau setiap hari Senin di kantor-kantor pemerintah atau di sekolah-sekolah. Lalu, rumah-rumah ibadahnya? Ada. Istana negara sampai kantor-kantor pejabat pemerintah. Para pemimpin umatnya juga ada. Yaitu, presiden mungkin mirip Uskup atau Ketua Sinode. Lalu para kyai, pendeta, gembala, bikhunya agama negara adalah pejabat-pejabat negara, bupati, gubernur. Hari-hari raya keagamaan agama negara adalah hari-hari raya peristiwa bersejarah, heroik, hari kelahiran negara, hari kematian seorang pahlawan, dll. Kitab sucinya adalah dasar negara, seperti Pancasila di Indonesia atau Undang-Undang Dasar.

Agama negara juga memiliki doktrin. Pada umumnya, doktrinnya adalah nasionalisme. Setelah itu, muncul doktrin-doktrin keselamatan, seperti kesejahteraan, keadilan, perdamaian. Kalau agama negara Indonesia, doktrin tunggal yang telah berhasil mengubah kesadaran umatnya sejak agama negara ini berdiri adalah Pancasila. Dulu, hak menafsir kitab suci yang bernama Undang-undang Dasar 1945 hanya terbatas pada kaum ”klerus” agama negara ini, yaitu para elit politik dan intelektual. Reformasi 1998, sebenarnya mendesentralisasi hak tafsir, tapi manipulasi hukum dan ideologi terus saja terjadi. Buntutnya adalah kondisi benegara yang tidak menentu.

Seperti umat beragama pada umumnya yang menerima dibuai dengan iming-iming sorga di sana, umat agama yang bernama negara juga demikian. Meskipun sering disadari, harapan itu semakin menjauh, tapi doktrin nasionalisme kadang membuat umat agama negara ini tidak mampu keluar dari agama negara itu. Tetap saja umatnya mau beragama negara. Meski memang, seperti halnya agama pada umumnya, situasi seperti itu memunculkan individu atau kelompok-kelompok terbatas yang melakukan kritik tajam.

Tuhan agama negara, apalagi kalau bukan kekuasaan. Kekuasaan seperti roh yang mampu merasuk para klerus atau elit negara. Kekuasaan yang adalah tuhannya agama negara ini bisa menjadi kekuatan untuk meminggirkan, mendiskriminasi atau bahkan membunuh umat. Atas nama negara, kekerasanpun menjadi halal. Bukankah begitu juga dengan agama?
Ini sebenarnya konsekuensi dari institusionalisasi atau rasionalisasi hidup bersama. Bahwa, hidup bersama dalam institusi yang dogmatis dan politis macam agama dan negara itu sesungguhnya hanya bicara soal bagaimana institusi buatan manusia itu langgeng. Doktrin keselamatan, hidup bahagia adalah mitos yang sengaja dikonstruksi untuk memanipulasi kesadaran diri umatnya. Apakah harapan hidup selamat, bahagia dan damai hanya akan tercapai karena manusia berinstitusi? Kita memang akan sulit menjawab ”tidak” selagi kerangkeng besi bernama rasionalitas masih kuat memenjarakan pikiran dan kesadaran kita.

Nyaku mengamati itu dalam diskusi-diskusi mengenai agama-agama dan relasinya dengan negara, yang nyaku sebut negara itu adalah juga agama. Diskusi berputar-putar pada soal bahwa negara telah menyebabkan kekacauan pada hubungan agama-agama. Namun anehnya, selalu saja berharap negara dapat menyelesaikan kekacauan itu. Bagaimana torang bisa membedah orang yang kena infeksi dengan pisau yang sama yang menyebabkan orang itu sakit?

Doktrin nasionalisme agama yang bernama negara ini telah begitu merasuk hingga ke dalam jantung kesadaran manusia. Begitupula dengan doktrin agama-agama pada umumnya. Sehingga, siapa saja yang melakukan kritik atau memberontak terhadap dominasi dan hegemoni dua institusi itu harus siap mendapat stigma makar, separatis, sesat dan kafir. Agama-agama ini, baik agama wahyu maupun agama negara, selalu berusaha memenjarakan manusia dalam kesadaran semunya.

Sejarah kelahiran dua institusi penjara ini, pada awalnya mungkin karena ketertindasan atau kerena penderitaan. Sejumlah nation state produk modernitas adalah buah dari pemberontakan terhadap kolonialisme. Begitu juga agama-agama semit atau agama-agama timur. Terkecuali mungkin agama-agama lokal pramodern, yang meski hanya terbatas pada suku-suku atau klan-klan tertentu tapi relatif tidak dogmatis dan politis. Kegelisahaan terhadap tujuan hidup melahirkan nabi-nabi atau para bijak yang mengkhotbahkan kebahagian sebagai tujuan hidup. Kondisi yang terjajah melahirkan patriot-patriot dengan pidato-pidato yang heroik. Setelah semua itu, apa? Setelah semua itu, adalah institusi yang memenjarakan. Institusi modern ini adalah karengkeng rasionalitas.

Waktu nyaku ke Yogyakarta 12-15 Oktober lalu, nyaku sempat bacirita dengan tiga teman, Rony Chandra Kristanto dari Semarang, Silo Abraham Wilar dari Jakarta dan Nelti dari Padang. Dua teman, Rony dan Silo adalah teolog muda yang aktif di Asosiasi Teolog Indonesia (ATI). Torang bacirita di sebuah kafe. Silo, yang sudah akrab dengan Jogja bilang, kafe itu namanya ”Ginseng”. Tempat para bule menghabiskan malam sambil minum bir dan menyanyi. Kami sempat bacirita soal beragama yang tak terikat lagi dengan institusi. Dan, ini kemudian menjadi isu hangat dalam diskusi malam itu. Ada pemikiran bahwa, gereja misalnya, bisa menjadi tempat bertemunya manusia-manusia, siapapun dia. Menjadi ruang refleksi. Tapi, tidak harus dogmatis dan struktural. Pikiran saya, mungkinkah pula kita mewacanakan agama yang bernama negara menjadi ruang terbuka yang nyaman, bebas polusi kepentingan-kepentingan politik bagi siapa saja?

Apa yang kami perbincangkan itu sesungguhnya adalah ideal-ideal, yang sangat jauh dengan realitas dan maksud dari banyak orang beragama dan beragama yang bernama negara itu. Memang, ide atau gagasan itu subversif. Karena wacana itu masih akan berhadapan dengan banyak orang yang mau dan senang hati pikirannya dijajah oleh mitos-mitos surga dan neraka kedua institusi itu. Terlebih, wacana ini akan berhadapan dengan tuhan yang bernama kekuasaan itu.


19 Oktober 2011 (Rabu: 21:37 wita)
  

  

  

Rabu, 24 Agustus 2011

Globalisasi: Dari Pizza, Pisang Goreng sampai Korupsi

|0 komentar
Orang takut dengan globalisasi. Sebab, katanya globalisasi adalah imprealisme kebudayaan. Dari aktivis sampai analisis, kritikus, akademisi bahkan politikus banyak yang menentangnnya. Kecuali yang nda mo ambe pusing adalah ‘tikus-tikus kantor”.

Johan Norberg membelanya. Tesis utamanya, bahwa banyak negara yang dulunya terkebelakang dan terisolir sekarang ini bisa maju karena menerima globalisasi dan sudah tentu kapitalisme globalnya. “Itu sebabnya saya mencintai apa yang sering secara agak kerontang dinamakan ‘globalisasi,’ proses di mana manusia, informasi, perdagangan, investasi, demokrasi, dan ekonomi pasar cenderung semakin melampaui batas-batas nasional. Internasionalisasi semakin membebaskan kita dari batas-batas ciptaan pembuat peta,” begitu keyakinan Norberg, seorang peneliti di Timbro, sebuah organisasi think-tank di Swedia.

Thomas L. Friedman sedikit banyak sama dengan Norberg dalam membela globalisasi. Dia memang mengakui bahwa ketakutan banyak orang pada globalisasi adalah soal bahaya “Amerikanisasi” atau imprealisme kebudayaan Amerika. Tapi, Friedman membalas kekhawatiran itu dengan mengatakan bahwa justru dengan semakin mendatarnya dunia malah akan lebih berpotensi untuk menumbuhkan suburkan keanekaragaman budaya. “Mengapa? Pertama-tama adalah karena uploading. Uploading membuat proses ‘globalisasi akan sesuatu yang sifatnya lokal menjadi mungkin.’”, katanya.

Friedman memberi contoh tentang pizza. Mengapa pizza bisa lebih mendunia ketimbang Big Mac? Jawabnya, “Pizza hanyalah selembar adonan rata, tempat setiap kebudayaan dapat menambahi dan membumbui dengan rasa yang berbeda. Karena itu, Jepang memiliki pizza sushi; Bangkok memiliki pizza Thai; dan Lebanon memiliki pizza mezze. Tatanan dunia yang datar hampir mirip dengan adonan pizza. Ia mengijinkan berbagai kebudayaan yang berbeda untuk membubuhi dan menambahkan rasa sesuai keinginan mereka…” jelas Friedman.

Lalu, Minahasa punya pizza apa? Tole mungkin akan bilang Minahasa punya ”pizzang goreng.” He..he..Kita hanya membayangkan seandainya pisang goreng goroho bisa menjadi salah satu adonan rata, dan kebudayaan lain bisa menambah kreasinya. Atau, Cap Tikus, sebagai alcohol murni yang bisa ditambah dengan bumbu-bumbu dari kebudayaan lain sehingga bisa menjadi minuman dari Minahasa yang mendunia. Tapi apakah, misalnya cap tikus yang ditambah dengan ginseng dari China dan diminum di hotel-hotel mewah Amerika masih bisa kita sebut itu sebagai Cap Tikus dari Minahasa yang mendunia? Mungkin yang paling bisa adalah minuman alcohol murni dari Indonesia. Maka Minahasa tersubordinasi di bawah nama Indonesia. Seandainya bisa seperti Bali, yang mungkin lebih muda di sebut di Las Vegas ketimbang Indonesia, maka Minahasa benar-benar telah mendunia.

Bagaimana dengan Bunaken yang katanya taman laut yang dapat membuat Minahasa menjadi popular sedunia? Potensinya tak terlalu menggembirakan. Bukti yang paling muda adalah dengan mengklik kata “Bunaken” di mesin pencari google. Sekali mengklik kata itu, kita hanya mendapat sebanyak 295,000 hasil telusur. Sementara kata “Kuta Bali” mencapai 1,290,000 hasil telusur. Masih lebih banyak kata “Cap Tikus” yang berjumlah 2,060,000 hasil telusur dibanding kata “Bunaken”. Menariknya, hasil telusur untuk kata “Bunaken”, “Kuta Bali”, dan “Cap Tikus” kalah banyak jumlahnya dengan hasil telusur dengan kata “Korupsi di Indonesia” yang mencapai 5,850,000. Artinya, di dunia maya yang menembus batas itu, masih lebih populer korupsi di Indonesia dibanding potensi-potensi lokal, yang sebenarnya harus mendunia, melampaui Jakarta. Namun, yang menggembirakan kata “Minahasa” melampaui lebih setengah kata “Korupsi di Indonesia” yang mencapai 12,900,000 hasil telusur. Tapi, semua itu sangat jauh dari hasil telusur kata “Indonesia” yang mencapai 341,000,000. Jangan-jangan kata “Indonesia” menjadi banyak hasil telusurnya karena kata “korupsi”-nya, ya? Mudah-mudahan ini bukan berarti kata “Indonesia” identik dengan kata “korupsi”. Hmm…